<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>JPIC OFMCap Medan's Weblog</title>
	<atom:link href="http://jpic.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jpic.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 16 May 2008 05:17:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='jpic.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>JPIC OFMCap Medan's Weblog</title>
		<link>http://jpic.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://jpic.wordpress.com/osd.xml" title="JPIC OFMCap Medan&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://jpic.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Fransiskus &amp; Ekologi</title>
		<link>http://jpic.wordpress.com/2008/05/16/fransiskus-ekologi/</link>
		<comments>http://jpic.wordpress.com/2008/05/16/fransiskus-ekologi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 May 2008 05:15:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jpic</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jpic.wordpress.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[Fransiskus melihat ciptaan sebagai tangga untuk naik kepada Allah Pencipta (KidMat 5.16; LM IX,1; SP 113). Dalam ciptaan ia menemukan Pencipta sendiri. Kenyataan dunia ini dilihat sebagai simfoni cinta yang mengarah kepada Yesus Kristus, saudara sulung dari setiap makhluk (1Cel 15). Karena itulah Fransiskus menyebut setiap makhluk sebagai saudara atau saudari (1Cel 91). Setiap ciptaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jpic.wordpress.com&amp;blog=3684895&amp;post=26&amp;subd=jpic&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jpic.files.wordpress.com/2008/05/sanfrancesco21.jpg"><img src="http://jpic.files.wordpress.com/2008/05/sanfrancesco21.jpg?w=200&#038;h=200" alt="" width="200" height="200" class="alignright size-medium wp-image-27" /></a>	Fransiskus melihat ciptaan sebagai tangga untuk naik kepada Allah Pencipta (KidMat 5.16; LM IX,1; SP 113). Dalam ciptaan ia menemukan Pencipta sendiri.<br />
	Kenyataan dunia ini dilihat sebagai simfoni cinta yang mengarah kepada Yesus Kristus, saudara sulung dari setiap makhluk (1Cel 15). Karena itulah Fransiskus menyebut setiap makhluk sebagai saudara atau saudari (1Cel 91).<br />
	Setiap ciptaan menandakan dan menyuarakan Penciptanya (KidMat). Setiap makhluk menunjukkan jejak-jejak kebijaksanaan Pencipta, dan menjadi jalan menuju Dia (1Cel 82; 3Cel 1.21; LM V,10; XI,6; XII,8). Fransiskus membawa ciptaan dalam nyanyian cinta untuk memuji Penciptanya.<span id="more-26"></span></p>
<p>1. Ciptaan sebagai Rivelasi Allah Pencipta<br />
	Menurut Fransiskus, segala sesuatu diserap oleh cinta Allah (SP 113). Karena itulah ia membangun hubungan baru dengan segala ciptaan. Ia tidak mau memilikinya (kemiskinan) dan menguasainya, tetapi mengundangnya untuk memuji Allah (Proc XIV,9; 1Cel 80; SP 118-119). Bahkan ia melayaninya karena cintanya kepada Tuhan yang menciptakan segala makhluk (Lv 14-18; AngTBul XVI,7).<br />
	Fransiskus tidak hanya menyebut makhluk sebagai saudara, tapi ia bahkan memperlakukannya seolah-olah ciptan itu punya pikiran (ratio) (1Cel 81; SP 115). Ia bicara dengan makhluk-makhluk seolah-olah bicara dengan manusia (Cron XVI,4). Karena itulah ia berhasil melihat keindahan dan kelayakan setiap ciptaan dan mengembalikannya kepada Allah Pencipta (KidMat).<br />
	Dalam prospektif religius inilah alam atau kodrat menjadi transparan kepada yang ilahi serta memberi peluang bagi manusia untuk melihat Allah di dalamnya. Kenyataan alam tidak habis hanya dalam dimensi duniawinya, tapi malah keberadaannya menjadi tanda, gambaran, kehadiran dan rivelasi sang Seniman yang sangat bijaksana yang telah menciptakannya bagi manusia dan yang telah mengaturnya agar nampak sebagai “gambaran” Allah dan “kemiripan”-Nya (Pth V,1), yang dicipta dalam Kristus, “gambaran” Allah yang tak kelihatan, anak sulung dari setiap makhluk.<br />
	Justru karena manusia itu adalah “gambaran” Allah, maka ia menerima tugas untuk memberi nama kepada ciptaan dan menjadi pelindungnya. Fransiskus menghayati ini, maka ia pun memberi nama dan memanggil setiap makhluk sebagai saudara.<br />
Dengan demikian, Fransiskus telah membebaskan hatinya dari egoisme. Ia tidak mau memiliki apapun di bawah kolong langit (AngBul Vi,7; AngTBul VII,1; AP 29). Karena itu, ciptaan, bagi Fransiskus, bukanlah obyek kenikmatan dan kuasa, tetapi sebagai obyek kekaguman akan karya Allah dan ia merasa wajib sebagai pemelihara dan penjaganya.<br />
Bagi Fransiskus, mengenal ciptaan sebagai rivelasi Allah ialah mengenal kebijaksanaan tertinggi dari Pencipta (Pth V,6). Karena dan dalam cinta, Fransiskus melihat ciptaan sebagai “gambaran” Pencipta (2Cel 172). Mengenai ciptaan, menurut Fransiskus, adalah mengikuti Kristus dalam dan bersama ciptaan.<br />
Semua ciptaan adalah milik Allah, dan karena itu perlu dikembalikan kepadaNya (AngTBul XVII, 17-19; AngTBul XXIII,31-34; SurBerim 61-62; KidMat 15).<br />
Fransiskus tidak hanya melihat ciptaan sebagai tangga untuk naik kepada Allah, tetapi juga melihat Pencipta sendiri hadir dalam ciptaanNya. Karena itulah Fransiskus melihat ciptaan itu indah dan cantik, sebagai lukisan bagus dari Pelukis yang pandai. Fransiskus melihat ciptaan sebagai tempat dan tanda kemuliaan Allah. Ia menyadari bahwa Allah menciptakan segala ciptaan dalam diri Putera-Nya. Karena itu keindahan warna can cahaya dilihat Fransiskus  sebagi mencerminkan wajah Yesus Kristus. Fransiskus tidak hanya mencintai manusia, tetapi juga semua ciptaan (1Cel 77; LM Mir III,8).</p>
<p>a. Dalam Alam/Kodrat Nampak Jejak Pencipta, dan Di dalamnya Ia Hadir.</p>
<p>	Melalui jejak-jejak Allah dalam alam, Fransiskus mengikuti Dia yang Terkasih (KidMat V,17). Apa yang dia lihat dalam ciptaan diarahkan kepada Penciptanya (2Cel 165).<br />
	Dalam setiap makhluk tampak kebaikan asali dari Pencipta (LM IX,1). Melalui semua hal Fransiskus sampai kepada Dia yang menciptakan segalanya.<br />
	Kristus bercahaya dalam kehidupan dan menjadi “Kebijaksanaan Tertinggi” bagi setiap orang Kristen (Pth V,6).</p>
<p>b. Manusia “Gambaran” dan “Kemiripan” Allah, Mahkota dan Kemuliaan Makhluk</p>
<p>	Melalui PuteraNya dan dalam Roh Kudus, Allah telah menciptakan segala sesuatu yang rohani dan jasmani (AngTBul XXIII,1-3). Manusia sendiri dicipta seturut “gambaran” Putra-Nya, dan karena itulah manusia itu terarah pada Tubuh Mulia Kristus. Manusia hidup dalam Kristus dan mencapai kesempurnaannya yang ideal serta kepenuhannya yang maksimum dalam Dia.<br />
	Fransiskus sendiri mendekati dan menyesuaikan diri dengan Yessus Kristus sejak Ia Kanak-Kanak hingga pada yang tersalon di Kalvari.<br />
	Manusia merangkum dalam dirinya semua ciptaan dan berjalan beriring bersamanya dalam perjalanan mengikuti Kristus menuju Bapa. Manusia dan seluruh ciptaan membawa dalam dirinya gambaran Pencipta. Manusia dan seluruh ciptaan telah ditebus oleh Penebus (LM IX,4).<br />
	Sambil berdialog dengan Allah, manusia dipanggil untuk hidup seturut ritme ciptaan dan selaras dengannya, yang condong mengubah rupanya (transfigurasi) pada Tubuh Mulia Tuhan. Langit baru dan bumi baru telah hadir dalam diri dan hidup Fransiskus yang melihat jejak-jejak kesetiaan Allah dalam ciptaan (LM Prol 1;IV,9).</p>
<p>2. Fransiskus sebagai Biduan dan Penjaga Ciptaan</p>
<p>	Fransiskus membuka hati pada nyanyian ciptaan dan menyanyi bersama mereka. Dengan dan dalam ciptaan, Fransiskus menjadi penyanyi bagi yang Mahatinggi (AngTBul XXIII,24-25). Karena dan dengan itu ia mau mengembalikan segala sesuatu kepada Tuhan Pencipta, ia mau bebas dari segala sesuatu, dan ia tidak mau memiliki apapundi bawah kolong langit (kemiskinan).<br />
	Allah mencintai ciptaanNya dan mengambilnya sebagai mempelai Putra-Nya yang satu-satunya (2Cel 16; KKS 50; AP 35).</p>
<p>a. Fransiskus sebagai Biduan Ciptaan </p>
<p>	Bagi Fransiskus, miskin berarti mengakui bahwa segala sesuatu adalah pemberiaan Allah. Ia menyadari bahwa melalui semua ciptaan, rahmat Allah sampai kepada manusia. Gita Sang Surya adalah pujian kepada Allah dengan perantaraan dan bersama dengan alam dan segala makhluk.<br />
	Fransiskus mau mengembalikan segala sesuatu kepada Allah karena Dialah asal segala sesuatu itu. (AngTBul XVII,17-20). Dalam pujian alam, alam itu sampai kepada Pemberi-Nya (AngTBul XXII,26).<br />
	Dengan pujian alam, maka semua ciptaan bukan lagi budak kuasa dan korban kenikmatan, tapi diakui kelayakannya sebagai ciptaan Tuhan (2SurBerim 10.61).<br />
	Gita Sang Surya adalah jalan dan cara Fransiskus untuk menemui dan menerima segala ciptaan untuk diaransir dan diharmonisir sebagai nyanyian pujian bagi yang Mahatinggi, dan sekaligus sebagai pengakuannya akan kebersatuannya dengan setiap ciptaan dan dengan Allah Pencipta. Nyayian itu juga sekaligus nyanyian keselamatan, sebab di dalamnya terkandung keyakinan kuat akan keselamatan (saudara maut) yang digubah oleh Fransiskus menjelang kematiannya.<br />
	Fransiskus mencintai cahaya karena dan sebagai refleksi Cahaya. Ia mencintai hidup sebagai semburan Hidup Ilahi. Ia mencintai keindahan yang berasal dari Keindahan yang Tertinggi.<br />
	Karena segala ciptaan adalah karya Allah Pencipta, maka Fransiskus merasa dirinya sebagai hina dina (minor) terhadap ciptaan itu.<br />
	Semua ciptaan condong untuk menyesuaikan dirinya dalam harmoni kepada Keindahan Tertinggi sebagai karya seni abadi, yaitu Yesus Kristus sendiri secara pribadi dan dalam Tubuh manusiawiNya. Manusia juga- dan terutama- ambil bagian dalam mediasi Kristus ini: yaitu bahwa ia adalah Exemplar dan Tuhan segala ciptaan.<br />
	Matahari, bulan, bintang-bintang menyanyikan pujian bagi Allah dan nyanyian mereka terngiang dalam hati Fransiskus dan ia pun ikut menyanyi bersama mereka untuk memuji Pencipta. Bumi kaya akan bunga dan buah. Api mengeluarkan panas dan merajai malam. Semua ini terangkum dalam Gita Sang Surya sebagai nyanyian hidup, nyanyian damai, dan sebagai nyanyian keselamatan yang melewati batas kematian. Dalam nyanyian ini, Fransiskus berperan sebagai badut (penghibur) Allah (LP 43).<br />
	Dalam nyanyian ini, Fransiskus menunjukkan fungsi setiap makhluk/ciptaan: api, air, angin, dst. Fransiskus melihat bahwa ciptaan itu punya suara untuk bernyanyi dan keindahan untuk melukiskan wajah Allah. Fransiskus menggugah dan memimpin suara makhluk-makhluk itu untuk memuji Allah. Karena dan dengan ciptaan, ia memuji Pencipta. Karena itu, setiap makhluk itu tidak hanya layak, tetapi juga transparan kepada yang ilahi.<br />
	Bila ada percekcokan diantara makhluk itu, Fransiskus juga mendamaikannya. Bila ada percekcokan, tentu tak akan lahir suara-suara yang selaras dan harmonis dari makhluk itu, melainkan koor yang jelek dan accord-accord yang sumbang. Untuk inilah Fransiskus bertindak untuk menyelaraskan suara-suara itu.</p>
<p>b. Fransiskus Pelindung Ekologi</p>
<p>	Fransiskus merasa berfamili dengan semua ciptaan.ia berdialog dengan mereka, mengundang mereka (LM VIII,9) dan bersama mereka (1Cel 58) untuk memuji Tuhan.<br />
	Ia memadukan suara-suara makhluk (LP 43; 2Cel 127; SP 100) dan menyanyi bersama burung-burung untuk memuji Allah. Ia juga mengajak makhluk untuk menyanyi bagi Allah (LM VIII,9)<br />
	Tapi bila suaraa-suara itu menggannggu doa pujiannya kepada Allah, ia juga mau memerintahkan burung-burung itu agar berhenti dari keributan mereka (LM VIII,9; 1Cel 59).<br />
	Makhluk juga sering mencari perlindungan pada Fransiskus (1Cel 60; LM VIII,8; 1Cel 61). Ia sendiri pernah bertindak untuk menyelamatkan domba (LM VIII,6; 1Cel 77-79; Fior 22).<br />
	Fransiskus juga bertindak sebagai juru damai bila terjadi permusuhan antara makhluk dengan manusia (seperti peristiwa serigala di Gubbio: Fior 20).<br />
	Fransiskus adalah sahabat makhluk. Ia merasa bersatu dan senasib dengan semua makhluk sebagai sesama ciptaan Allah. Ia merasa ditebus dan diselamatkan oleh Penebus bersama seluruh ciptaan.<br />
	Karena semuanya ini, Fransiskus telah diangkat oleh Paus Yohanes Paulus II sebagai pelindung ekologi, tanggal 29 September 1996.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jpic.wordpress.com/26/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jpic.wordpress.com/26/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jpic.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jpic.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jpic.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jpic.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jpic.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jpic.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jpic.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jpic.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jpic.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jpic.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jpic.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jpic.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jpic.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jpic.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jpic.wordpress.com&amp;blog=3684895&amp;post=26&amp;subd=jpic&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jpic.wordpress.com/2008/05/16/fransiskus-ekologi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee06e0652a6d8b2dbaf9605c23153b33?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jpic</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jpic.files.wordpress.com/2008/05/sanfrancesco21.jpg?w=200" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Fransiskus &amp; Damai</title>
		<link>http://jpic.wordpress.com/2008/05/16/fransiskus-damai/</link>
		<comments>http://jpic.wordpress.com/2008/05/16/fransiskus-damai/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 May 2008 05:14:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jpic</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jpic.wordpress.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[1. Damai Sebagai Anugerah dan Tugas Dalam Wasiatnya Fransiskus mengakui bahwa Tuhan sendirilah yang mewahyukan kepadanya agar ia dan saudaranya mengucapkan salam: “Semoga Tuhan memberi engkau damai” (Was 23). Beberapa biografi yang membenarkan ucapan ini (LP 67; SP 26). Salam damai adalah khas bagi Fransiskus. Tulisan-tulisannya (surat-surat) sering dimulai dengan salam damai. Sebelum berkhotbah, Fransiskus [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jpic.wordpress.com&amp;blog=3684895&amp;post=25&amp;subd=jpic&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1. Damai Sebagai Anugerah dan Tugas</p>
<p>	Dalam Wasiatnya Fransiskus mengakui bahwa Tuhan sendirilah yang mewahyukan kepadanya agar ia dan saudaranya mengucapkan salam: “Semoga Tuhan memberi engkau damai” (Was 23). Beberapa biografi yang membenarkan ucapan ini (LP 67; SP 26).<br />
	Salam damai adalah khas bagi Fransiskus. Tulisan-tulisannya (surat-surat) sering dimulai dengan salam damai.<br />
Sebelum berkhotbah, Fransiskus menganjurkan agar selalu dengan sapaan lebih dulu: “Semoga Tuhan memberi kamu damai” (1Cel 23; LM III,2; KKS VIII,26). Dan injil yang diwartkan, bagi Fransiskus, adalah Injil damai.<span id="more-25"></span><br />
	Fransiskus mengutus saudara-saudaranya ke dunia agar mereka mewartakan damai (LM III,7). Dan pada setiap rumah yang mereka kunjungi, Fransiskus memesankan agar mereka mengucapkan “Damai di rumah ini” (AngTBul XIV,1-3; AngBul III,14).<br />
	Fransiskus juga menekankan agar damai yang diucapkan dengan mulut hendaknya selaras dengan damai di hati (KKS XIV,58; AP VIII,9).<br />
	Dari salam damai yang diinginkan Fransiskus jelaslah bahwa baginya damai adalah anugerah Allah dan sekaligus tugas manusia. “Semoga Tuhan memberimu damai”, jelas bahwa damai itu berasal dari Tuhan. Tuhan adalah asal damai. Atau bahkan dapat diidentikkanTuhan itu adalah damai. Juga damai sebagai tugas sangat jelas. Damai itu disampaikan: “Damai bagimu”. Dan isi pewartaan juga adalah damai.<br />
	Damai sebagai anugerah, tugas dan isi pewartaan adalah damai yang benar, yang adalah Yesus Kristus sendiri yang lahir sebagai Pangeran Damai (2SurBerim 11-13). Karena itu, asal damai yang benar adalah Allah sendiri. Karena Ia adalah Cinta, kerendahan hati, kesabaran, keindahan dan keamanan (PujAllah 6-8)<br />
	Ekaristi, bagi Fransiskus adalah sakramen damai, karena dalam Ekaristi, Tubuh dan Darah Kristus diberikan kepada kita, dan Ia mendamaikan surga dan bumi (SurOr 13; 1Cel 20).<br />
	Damai di sini dimengerti Fransiskus sebagai keamanan, kenyamanan, kerukunan dan ketenteraman.</p>
<p>2. Damai Menuntut Pembaharuan Batin</p>
<p>	Menurut Fransiskus, damai yang benar lahir dari hati yang membuka jalan untuk dibimbing oleh Roh Tuhan. Karena itu pembaharuan batin sangat perlu menciptakan damai dalam hati, dan dengan itu setiap orang akan diperkuat untuk mencari damai.<br />
	Bagi Fransiskus ada tiga point untuk pedagogi damai:</p>
<p>a. Damai dan Pertobatan (AngTBul XVII)</p>
<p>	Sebelum mewartakan Injil, perlu lebih dahulu menerima cinta Allah, sumber segala sesuatu yang baik dan damai. Perlu lebih dahulu saling mencintai dan mengenal diri sebagai pendosa, baru mewartakan injil. Ketenteraman batin adalah syarat essensial untuk mencapai damai. Perlu menjauhkan diri dari kesombongan dan kehampaan serta mengikuti dorongan Roh Tuhan. Perlu mengatasi semangat daging yang sering egois dan cinta diri, sombong dan tamak.<br />
	Bila terbuka bagi Roh Tuhan, maka Roh itu akan mengarahkan hati kepada hal yang essensial, kepada ketenteraman, dan memberi kekuatan untuk mencari kerendahan hati dan kesabaran, damai yang murni, sederhana dan benar, yang berasal dari Roh itu.</p>
<p>b. Damai dan Hidup Polos</p>
<p>	Damai yang murni akan menyanggupkan orang untuk mengalami kesatuan dengan Allah. Kemurnian itu adalah kebebasan batin yang membuat orang siap dan bergerak mencari Allah.<br />
	Damai yang sederhana dan injili akan membimbing orang pada ketenteraman batin, dan membebaskan dari perbudakan yang dapat menghalangi orang dalam perjalanannya menuju Allah (2SurBerim 45-47)<br />
	Damai yang benar, bagi Fransiskus adalah damai yang tulus, polos, asli, dan seturut kebenaran Allah. Damai ini menunjukkan hasil yang batiniah dan mendarah daging, bukan hal yang lahiriah saja. Damai itu membiarkan diri dibimbing oleh Roh, Roh yang mempersatukan. Hanya Roh inilah yang dapat membimbing pada keintiman dengan Allah, Allah Tritunggal (AngTBul XVI). Damai yang benar berasal dari cinta akan Bapa, Putera dan Roh Kudus.<br />
	Cinta Allah ini mengarahkan kita kepada ketenteraman dan kerukunan yang membatin dan mengalami damai yang benar berasal dari Roh. Ketiadaan cinta Allah ini akan merupakan halangan besar untuk mencapai damai yang benar yang berasal dari Roh. Dengan cinta Allah ini, manusia akan mampu menemukan diri, orang lain dan sesama makhluk sebagai saudara.</p>
<p>c. Damai, Derita dan Rekonsiliasi (Pth XV)</p>
<p>	Fransiskus dalam petuahnya (XV) mengaitkan damai dan penderitaan. Karena itu dituntut kesabaran dan kerendahan hati (Pth XV,2). Menderita demi damai didasarkan pada Kristus yang telah menderita demi damai dan perdamaian (rekonsiliasi). Mencintai Kristus berarti siap menderita sebagaimana Dia menderita demi kerukunan dan damai.<br />
	Damai dan perdamaian ini bersifat aktif, bukan passif, yang mulai dengan pembaharuan batin.damai dan perdamaian seperti ini adalah “perlucutan hati” sesuai dengan tuntutan damai injili. Damai dan perdamaian seperti inilah yang sangat diperlukan dewasa ini. Yang penting dan terutama dewasa ini sebenarnya bukanlah “perlucutan senjata” tapi “perlucutan hati”, sebab hati manusialah yang mengatur senjata.<br />
	Pendamaian dan menjadi juru damai, menurut Fransiskus, menjadikan kita putera Allah. Tidak cukup hanya ber-askese demi damai dan hanya mencari solider terhadap manusia lain yang dilanda perang misalnya, tetapi perlu juga mengakui kebapaan Allah, asal dan dasar persaudaraan manusia. Tanpa mengakui Allah sebagai Bapa bersama, sudilah melihat orang lain sebagai saudara. Bila orang lain dapat dilihat sebagai saudara, maka akan ada keterbukaan untuk damai dengan mereka (KidMat 10-11).<br />
	Tapi Fransiskus tidak hanya berhenti hanya berdamai dengan dirinya sendiri (damai batin), dengan orang lain sebagai saudara, dan dengan Allah sebagai Bapa bersama. Ia juga mau berdamai dengan seluruh makhluk, seluruh ciptaan, dan seluruh alam semesta (KidMat). Damai ini berciri eskatologis, yang sudah hadir saat itu dalam pengalaman Fransiskus, yang sudah hadir saat ini dalam pengalaman para pengikutnya, dan yang akan penuh nanti pada akhir zaman. Damai itu terarah pada paskah, pada kebangkitan semua ciptaan.</p>
<p>3. Damai dan Persaudaraan Universal</p>
<p>	Bagi Fransiskus, damai dan persaudaraan berjalan seiring. Keduanya berpaut erat. Pada bagian ini Fransiskus melihat beberapa dimensi:</p>
<p>a. Dimensi Interpersonal (Hubungan Antar Pribadi)</p>
<p>	Dalam Wasiatnya, Fransiskus menggarisbawahi dua pertemuan penting, yaitu pertemuan  dengan orang kusta dan pertemuan dengan saudara-saudara yang diberi Tuhan kepadanya (Was 1-3)<br />
	Pertemuan dengan orang kusta mula-mula dirasa pahit, tapi kemudian berobah menjadi manis.Fransiskus sangat simpatik kepada orang kusta, dan menurut dia perlu lemah lembut  dalam menemani mereka. “Keluar dari dunia” (exire de saeculo) bagi Fransiskus bukanlah “lari dari dunia” (funga mundi) seturut tradisi monastic, tapi suatu cara baru untuk masuk pada orang-orang kecil, orang pinggiran, dan terutama orang kusta.<br />
	Dengan mencium orang kusta, Fransiskus merasa dirinya dialiri oleh kekuatan Allah, dan dengan pengalaman baru ini ia memasuki suatu metode baru dalam hubungannya dengan semua orang.<br />
	Saudara yang diberi Tuhan kepadanya membuatnya kontak secara lebih mendalam dengan manusia (Was 16-17).</p>
<p>	Dalam hubungan ini, Fransiskus menekankan tiga level dalam persaudaraan:</p>
<p>1)	Sebagai Saudara Dina:<br />
Menurut Fransiskus tidak ada yang “prior”, yang lebih tinggi, dan lebih utama dalam persaudaraan. Baginya, cara yang paling baik untuk bersaudara ialah menjadi hamba dan dina terhadap saudara dan saling mencuci kaki satu sama lain (Was 16-17). Hal ini akan menjamin kesamaan dan persaudaraan yang saling melayani secara timbal balik.</p>
<p>2)	Hubungan Atasan-Bawahan Sebagai Pelayan<br />
Tradisi Monastik yang selalu menonjolkan kuasa atasan dan ketaatan bawahan tidak cocok bagi Fransiskus. Dalam hubungan ini ia mengambil model Injili, yaitu “yang mau menjadi besar hendaknya menjadi pelayan dan hamba”. Atasan hendaknya menjadi “minor” terhadap bawahannya dan bukan “prior” (AngTBul V,12-15). Atasan adalah minister yang berarti pelayan.</p>
<p>3)	Dengan Semangat Keibuan<br />
Fransiskus mengambil contoh hubungan ibu dan anak sebagai model persaudaraannya. Cinta kepada saudara hendaknya seperti cinta seorang ibu kepada anaknya, di mana ada relasi essensial dan efektif (AngBul VI,8-10). Dan ini cocok dengan semangat Injili.<br />
Dengan mencium orang kusta, dengan bersaudara dengan mereka, Fransiskus merasa manis, tenteram dan damai dalam batin. Dengan persaudaraan yang berporos pada cinta, ia mengalami kesatuan dan kerukunan yang membatin dengan saudaranya. Fransiskus mengalami damai dan mewartakannya pertama-tama dalam persaudaraan dengan orang kusta dan dengan saudara-saudara yang diberi Tuhan kepadanya.</p>
<p>b. Dimensi Sosial dan Gerejani</p>
<p>	Damai yang dihidupi dan diwartakan Fransiskus tidak hanya terbatas pada orang kusta dan persaudaraan intern-nya. Dia juga terbuka pada gereja dan dunia dengan semangat dinamis, apostolis dan missioner.</p>
<p>Dalam AngTBul (XIV,2) dan AngBul (II,14) sangat ditekankan pentingnya damai ketika bebergian ke dunia. AngTBul menekankan sikap miskin dan tanpa kekerasan. Sedangkan dalam AngBul ditekankan bagaimana damai sebagai semangat injil harus dihidupi dan diwartakan (AngBul III, 11-12). Pertama-tama penting damai dalam diri baru kemudian mewartakannya.<br />
Dalam menhidupi damai dan mewartakannya, tak perlu pandang bulu, semua harus diterima, baik kawan atau lawan, pencuri dan penyamun, semua harus diterima dengan baik (AngTBul VII, 15-16). Semuanya harus diterima dengan sikap persaudaraan (Fior 26).<br />
Kemudian Fransiskus lebih jauh lagi. Ia mau menyeberangi batas-batas agama dalam mewartakan damai. Dalam mendekati orang tak beriman, ia menekankan dialog tanpa pertengkaran dan perdebatan. Saudara harus menjadi minor terhadap siapapun (AngTBul,6-8).</p>
<p>c. Dimensi Kosmis</p>
<p>	Mengalami dan mewartakan damai dan persaudaraan injili tidaklah lengkap kalau hanya terbatas pada manusia saja. Ini sangat jelas disadari Fransiskus dengan mengikat tali persahabatab dengan semua makhluk dan alam semesta: persaudaraan kosmis. Ia sangat menekankan damai dan perdamaian secara universal. “Semua (saudara) hendaknya tunduk kepada setiap makhluk,” kata Fransiskus dalam AngTBul XVI,6. Taat kepada saudara dan kepad semua makhluk, menurut Fransisksu, akan membawa keseimbangan bagi diri sendiri, dengan orang lain, dan dengan makhluk (KidMat).<br />
	Bagi Fransiskus, semua makhluk adalah ungkapan kebaikan Allah kepada manusia. Karena itu perlu harmoni dan damai dengan makhluk itu sebagai saudara.<br />
	Keselarasan, persahabatan, keakraban, persaudaraan dan damai dengan seluruh makhluk merupakan pujian bagi Allah, merupakan konser harmonis antara manusia dengan Allah dan dengan makhluk itu sendiri. Sebaliknya, perang dan permusuhan dengan makhluk adalah penghinaan bagi Pencipta sendiri.</p>
<p>4. Fransiskus Juru Damai</p>
<p>	Demi damai, usaha yang paling penting menurut Fransiskus, seperti sudah disinggung, bukanlah perlucutan senjata, tetapi perlucutan hati, yakni: tanpa benci, tanpa usaha balas dendam, tanpa diskriminasi, menerima pencuri atau penyamun (LP 90).<br />
	Terutama seturut biografi, ada beberapa kejadian genting di mana Fransiskus bertindak sebagai juru damai.</p>
<p>a. Dalam Kota-Kota yang Sedang Perang</p>
<p>	Pertama ialah di kota Arezzo, sebelah utara kota Assisi. Di sana terjadi kerusuhan dalam masyarakat (1215-1217). Mereka saling memerangi dan merusak serta membajar (2Cel 108; LM VI; LP 81). Dalam situasi gawat ini, Fransiskus bertindak sebagai juru damai.<br />
	Kedua terjadi di Bologna (1222). Di sana Fransiskus berkhotbah di lapangan umum. Khotbahnya diarahkan dan dipusatkan untuk tugas menghindari permusuhan dan menumbuhkan damai antara masyarakat.<br />
	Ketiga di Perugia (1223). Di sana Fransiskus mencoba menasehati penduduk kota agar tidak sombong terhadap warga kota Assisi. Dia berkhotbah tentang damai (2Cel 37).<br />
	Damai harus berdasar pada cinta Allah dan kesatuan dalam iman (2Cel 37). Damai yang benar (AngTBul XXII,1) berasal dari Allah.</p>
<p>b. Fransiskus dan Perang Salib</p>
<p>	Pimpinan Gereja tidak lagi melihat jalan lain senjata untuk membebaskan Yerusalem dari tangan orang Islam. Karena itu terjadilah perang salib.<br />
	Fransiskus tidak sependapat dengan pemikiran itu. Baginya damai injililah yang harus dibawa kepada orang Islam. Ia sampai ke Damiata pada bulan September 1219 dan di sana ia disebut Rahib Kristen yang terkenal. Ia bertemu langsung dengan Sultan Melek -al-Kamel. Dia mendekati sang Sultan dengan “senjata damai”.</p>
<p>Menurut Fransiskus, para saudara harus tunduk kepada manusia dan ciptaan. Bagi dia, lebih berharga pribadi orang Islam dari pada Yerusalem dan kuburan Yesus.<br />
Fransiskus mau berdialog dengan orang Islam, bukan dengan senjata.<br />
Inilah cara Fransiskus untuk berdamai dengan orang Islam. Lama Gereja belum dapat menerimanya. Baru pada Konsili Vatikan II ideal Fransiskus ini terpikirkan. Fransiskus mau mempertemukan orang Kristen dari Barat dengan orang Islam dari Timur  dalam suatu dialog damai.<br />
	Dewasa ini, sangat disadari bahwa contoh yang dibuat Fransiskus untuk menghadap Sultan adalah jalan yang paling baik untuk berkontak dengan orang Islam.</p>
<p>c. Rekonsiliasi antara Penguasa Assisi dan Uskup</p>
<p>	Mendengar perselisihan antara penguasa Assisi dengan Uskup, Fransiskus merasa malu. Maka ia menyuruh teman-temannya atas namanya sendiri untuk mengajak sang penguasa pergi ke keuskupan.<br />
	Kemudian, ia menyuruh dua saudara untuk menyanyikan Gita Sang Surya di hadapan kedua penguasa itu agar mereka kembali bersahabat dan berdamai.<br />
	Kedua saudara itu menyanyikan lagu itu di depan kedua penguasa tersebut. Kemudian, setelah mereka bernyanyi, maka kedua penguasa itu saling berpelukan dan berciuman sebagai tanda bahwa mereka berdamai.</p>
<p>d. Parabola tentang Serigala di Gubbio </p>
<p>	Seekor serigala menggana di Gubbio karena lapar. Penghuni kota takut. Fransiskus turun tangan. Ia mendamaikan serigala dengan penduduk kota.<br />
	Ini adalah gambaran kekejaman antara orang lapar dan orang kaya. Tembok ketidakadilan menimbulkan keganasan serigala-serigala yang lapar.<br />
	Fransiskus tidak menghukum siapapun. Tetapi ia mengajak kedua belah pihak berdamai.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jpic.wordpress.com/25/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jpic.wordpress.com/25/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jpic.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jpic.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jpic.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jpic.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jpic.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jpic.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jpic.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jpic.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jpic.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jpic.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jpic.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jpic.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jpic.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jpic.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jpic.wordpress.com&amp;blog=3684895&amp;post=25&amp;subd=jpic&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jpic.wordpress.com/2008/05/16/fransiskus-damai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee06e0652a6d8b2dbaf9605c23153b33?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jpic</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kegiatan Bersama Nelayan</title>
		<link>http://jpic.wordpress.com/2008/05/10/kegiatan-bersama-nelayan/</link>
		<comments>http://jpic.wordpress.com/2008/05/10/kegiatan-bersama-nelayan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 May 2008 12:19:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jpic</dc:creator>
				<category><![CDATA[ALBUM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jpic.wordpress.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jpic.wordpress.com&amp;blog=3684895&amp;post=23&amp;subd=jpic&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jpic.files.wordpress.com/2008/05/berdiskusi-di-pantai.jpg"><img src="http://jpic.files.wordpress.com/2008/05/berdiskusi-di-pantai.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-24" /></a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jpic.wordpress.com/23/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jpic.wordpress.com/23/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jpic.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jpic.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jpic.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jpic.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jpic.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jpic.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jpic.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jpic.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jpic.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jpic.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jpic.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jpic.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jpic.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jpic.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jpic.wordpress.com&amp;blog=3684895&amp;post=23&amp;subd=jpic&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jpic.wordpress.com/2008/05/10/kegiatan-bersama-nelayan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee06e0652a6d8b2dbaf9605c23153b33?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jpic</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jpic.files.wordpress.com/2008/05/berdiskusi-di-pantai.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>KPKC &amp; MISI</title>
		<link>http://jpic.wordpress.com/2008/05/10/kpkc-misi/</link>
		<comments>http://jpic.wordpress.com/2008/05/10/kpkc-misi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 May 2008 12:04:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jpic</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTIKEL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jpic.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[KEADILAN, PERDAMAIAN, KEUTUHAN CIPTAAN (KPKC) DI DALAM KONTEKS MISI SAUDARA-SAUDARA KAPUSIN INDONESIA Sdr. Guido Situmorang, OFMCap. 1. Pendahuluan Karena makalah ini disajikan di dalam sebuah pertemuan saudara-saudara Kapusin di Indonesia mengenai misi, maka judulnya “Keadilan, Perdamaian, Keutuhan Ciptaan (KPKC) di dalam konteks misi saudara-saudara Kapusin Indonesia.” Kendati demikian, isinya lebih umum; sedikit saja kaitan dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jpic.wordpress.com&amp;blog=3684895&amp;post=21&amp;subd=jpic&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jpic.files.wordpress.com/2008/05/sanfrancesco2.jpg"><img src="http://jpic.files.wordpress.com/2008/05/sanfrancesco2.jpg?w=200&#038;h=200" alt="" width="200" height="200" class="alignnone size-medium wp-image-22" /></a><br />
<strong>KEADILAN, PERDAMAIAN, KEUTUHAN CIPTAAN (KPKC)<br />
DI DALAM KONTEKS MISI<br />
SAUDARA-SAUDARA KAPUSIN INDONESIA</strong><br />
<em>Sdr. Guido Situmorang, OFMCap.<br />
</em></p>
<p>1. Pendahuluan</p>
<p>Karena makalah ini disajikan di dalam sebuah pertemuan saudara-saudara Kapusin di Indonesia mengenai misi, maka judulnya “Keadilan, Perdamaian, Keutuhan Ciptaan (KPKC) di dalam konteks misi saudara-saudara Kapusin Indonesia.” Kendati demikian, isinya lebih umum; sedikit saja kaitan dengan misi. Uraian umum itu berlaku juga bagi kehidupan misi.<br />
Tujuan dari makalah ini ialah membangkitkan (kembali) kesadaran bahwa KPKC adalah bagian utuh dari panggilan kita sebagai orang Kristen dan kapusin. Hal itu diterangkan terutama melalui Ajaran Sosial Gereja, dokumen Ordo serta tindakan yang diambil oleh pemimpin Ordo, dan juga sebuah uraian mengenai landasan rohani KPKC. Lalu ada beberapa buah pikiran untuk dipertimbangkan, termasuk di dalam bermisi ke luar Gereja-Propinsi asal.<span id="more-21"></span></p>
<p>2. KPKC ADALAH BAGIAN UTUH HIDUP DAN PEWARTAAN GEREJA</p>
<p>Paus Leo XIII menunjukkan sikap baru dari pihak Gereja terhadap dunia dengan terbitnya Rerum Novarum 1891. Ensiklik ini menyampaikan ajaran Gereja untuk menanggapi masalah masyarakat kapitalis, yakni ketidakadilan dan kemelaratan yang dialami oleh kelas  proletariat, sekaligus menolak pikiran komunisme untuk memperbaiki nasib kaum buruh.  Ensiklik-ensiklik sosial yang ditulis oleh para paus setelah Leo XIII, khususnya Yohanes XXIII, Paulus VI, Yohanes Paulus II dan Benediktus XVI, melanjutkan ensiklik yang satu itu sebagai permulaan perkembangan dari apa yang disebut dengan Ajaran Sosial Gereja (ASG).<br />
Pada tahap-tahap awal perkembangan ini, perhatian utama diberi pada pokok-pokok yang berkenaan dengan masalah keadilan dan perdamaian. Kemudian Gereja memberi perhatian yang lebih besar kepada ekologi sehubungan dengan semakin mendesaknya masalah-masalah lingkungan hidup. Hal ini secara istimewa nyata pada masa kepemimpinan Paus Yohanes Paulus II, dan berlanjut dengan Paus Benediktus XVI (bdk. Pesan Paus Yohanes Paulus II untuk Perayaan Hari Perdamaian Dunia 1 Januari 1990, Damai dengan Allah Pencipta, Damai dengan Seluruh Ciptaan). Dengan demikian ekologi atau keutuhan ciptaan dimasukkan di dalam perhatian pada bidang KPKC.<br />
Amanat Sinode Para Uskup di Roma tahun 1971, Tentang Keadilan di Dunia,  dengan jelas menegaskan perhatian Gereja terhadap KPKC. “Kegiatan demi keadilan dan partisipasi dalam perombakan dunia bagi kami nampak sepenuhnya sebagai dimensi hakiki pewartaan Injil, atau, dengan kata lain, perutusan Gereja demi penebusan umat manusia serta pembebasannya dari tiap situasi penindasan” (6).  Kegiatan demi keadilan adalah dimensi hakiki dari hidup Gereja, bukan suatu tempelan. Itu berarti juga bahwa tanpa komitmen tsb, kita bukanlah pengikut Yesus Kristus sepenuhnya. Pada Sinode tahun 1987 para Uskup mengembangkan refleksi ini dan mengatakan bahwa untuk menjadi kudus pada zaman sekarang ini, seseorang harus mengabdikan diri untuk keadilan sosial. (Secara khusus bagi hidup bakti, keharusan peduli akan KPKC ditandaskan oleh Paus Yohanes Paulus II di dalam surat Anjuran apostoliknya tentang Vita Consacrata &#8211; Hidup Bakti no. 82). </p>
<p>3. KPKC ADALAH BAGIAN UTUH HIDUP DAN KARYA KAPUSIN</p>
<p>3.1. MENURUT BEBERAPA DOKUMEN ORDO </p>
<p>Konstitusi Kapusin cukup banyak berbicara mengenai KPKC. Ditegaskan bahwa nilai-nilai KPKC tsb. adalah bagian inti panggilan Fransiskan Kapusin: hidup dan karya. Kita adalah orang-orang yang dinamai “pembawa damai” (167). Dengan hidup, perkataan dan perbuatan kita melayani keperluan jasmani dan rohani manusia untuk menjadi ragi keadilan, kesatuan dan perdamaian (12), serta berani mengingatkan para pemimpin masyararkat akan tugasnya pada bidang itu (145). Hal serupa diingatkan di  dalam bermisi, “Dengan melihat Kristus dalam segala ciptaan, marilah pergi menelusuri bumi, mewartakan damai dan per¬tobatan, dan sebagai saksi cinta kasih-Nya, mengundang semua orang memuji Allah” (46; lih. juga 60, 179). Kita mencintai serta menyembah Allah dalam segala ciptaan dengan hati yang jernih, badan yang murni dan pekerjaan yang suci (173; bdk 75).<br />
Kapitel general ke-82 (25 Juni – 16 Juli 2000) memutuskan untuk membaharui dukungan dan dorongannya terhadap Komisi-komisi KPKC sebagai suatu prioritas berdasar pada warisan Fransiskan kita, pertama dan terutama pada tingkat internasional, tetapi juga pada tingkat konperensi dan propinsi, sehingga perhatian yang lebih besar dapat diberi kepada tantangan-tantangan baru zaman kita, seperti emigrasi, imigrasi, pengungsi, AIDS, narkoba, terorisme, dll.  (Keputusan III “Animasi DPO VI” terutama no.4; lih. Atti del 82° Capitolo Generale OFMCap edizione ufficiale italiana,  hal. 712).<br />
Dewan Pleno Ordo (DPO) juga menggarisbawahi bahwa nilai-nilai keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan adalah bagian hakiki dari karisma Fransiskan Kapusin kita. Mengenai KPKC sebagai cara berada atau cara hidup bagi kita (juga menyinggung sebagai perbuatan di dalam karya) dikatakan: “Dengan mengikuti Yesus sesuai jejak Fransiskus, dari semula kita menyadari bahwa sebagai saudara kita harus secara kenabian mengungkapkan dengan hidup dan perbuatan-perbuatan kita nilai-nilai keadilan, perdamaian dan hormat terhadap ciptaan. Keserasian di antara ketiga kenyataan ini adalah rencana Allah pada hari penciptaan, yang kemudian dirusak oleh dosa. Sekarang sebagai saudara kita harus bekerjasama memperbaiki kembali keserasian asali itu dan mempersiapkan datangnya Kerajaan Allah di bumi, dengan semua saudara dan saudari di seluruh dunia. Inilah rencana di dalam Perjanjian yang dimulai di dalam Yesus” (DPO V, 63). “St. Fransiskus memberikan kepada kita karisma istimewa perdamaian, keadilan dan ciptaan. Cara pandang orang miskin adalah tempat yang istimewa darimana seorang putera St. Fransiskus melihat dan mewartakan nilai-nilai itu. Rekonsiliasi dan hormat terhadap ciptaan adalah alat yang diajukan oleh St. Fransiskus kepada kita untuk memperoleh perdamaian dan harmoni yang benar. Hal ini membentuk bagian utuh dari panggilan Fransiskan kita” (DPO V, 86).<br />
Sedangkan mengenai KPKC sebagai bagian utuh karya kita (tidak pernah dapat dilepaskan dari cara hidup) diungkapkan bahwa memperjuangkan perdamaian termasuk sisi utama dari hidup kita seturut Injil (DPO IV, 31).  “Bagian utuh dari tugas kita sebagai saudara dina ialah secara nyata memajukan pendamaian, dengan pelbagai inisiatif yang jitu dan mantap, tepat dan konkret serta mengajukan kebudayaan damai. Di bidang ini, kesediaan untuk merayakan sakramen pendamaian pastilah ungkapan kedinaan kita” (DPO VII, 44).</p>
<p>3.2. LANGKAH-LANGKAH YANG DIAMBIL OLEH PEMIMPIN ORDO</p>
<p>Pemimpin Ordo sangat yakin akan menyatunya nilai-nilai KPKC dengan karisma kita. Untuk menyemangati seluruh persaudaraan agar menghidupi dan mewartakannya,  para minister general bersama dengan para penasehatnya membuat banyak, antara lain hal-hal berikut.</p>
<p>1. Surat Edaran dan Dewan Pleno Ordo (DPO)<br />
Para minister general menulis surat edaran dan juga mengundang pelbagai DPO, terutama ketiga DPO terakhir (V, VI, VII). </p>
<p>2. Kantor dan Komisi Internasional<br />
Para minister general dan penasehatnya mengangkat kelompok para saudara membantu mereka di dalam tugasnya untuk memberi penyemangatan. Semenjak periode 2000-2006 komisi internasional terdiri dari beberapa saudara dengan seorang definitor general pendamping; selain itu ada kantor internasional untuk KPKC yang berpusat di kuria general, diurus oleh seorang direktur dan seorang saudara lain sebagai penghubung di antara komisi ini dengan Franciscans International (dia bukan berkedudukan di kuria general).</p>
<p>3. Statuta KPKC<br />
Supaya baik komisi maupun kantor internasional lancar dalam pelayanannya, pemimpin Ordo menghendaki agar ada statutanya. Statuta ada semenjak Januari 1990 dan yang terakhir adalah revisi Maret 2002. Statuta tsb. sedang direvisi oleh Komisi periode 2006-2012.</p>
<p>4. Komitmen terhadap Franciscans International<br />
Perhatian Ordo bukan tinggal hanya pada bidang dokumen dan struktur, melainkan juga di bidang kepedulian konkrit melalui keterlibatannya untuk Franciscans International (FI).<br />
FI berawal dari 1982 ketika dua orang Fransiskan, seorang Suster dari USA dan seorang Saudara dari Malta, melihat bahwa ada peluang bagi keluarga Fransiskan bersuara di Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Tahun 1989 PBB secara resmi mengakui FI sebagai NGO. FI membuka kantornya di New York 1990. Pada 1995 FI sebagai NGO memperoleh “General Consultative Status”, dengannya FI berhak mengambil bagian baik secara lisan maupun tertulis di dalam kegiatan-kegiatan Dewan Ekonomi dan Sosial PBB. Tahun 1997 FI bersama dengan Komisi Damai dan Keadilan Ordo Dominikan membuka kantornya di PBB di Genewa, dengan pusat perhatian pada bidang pengembangan dan perlindungan hak-hak azasi manusia.<br />
Semua tarekat yang tergabung di dalam Konperensi Keluarga Fransiskan di Roma, yakni Minister general OFM, OFMConv, OFMCap, TOR, OFS dan Presiden Konperensi Inter-Fransiskan Ordo Ketiga Regular, otomatis menjadi anggota FI. Keuangan FI ditopang secara sukarela oleh anggota Keluarga Fransiskan tsb. Sampai dengan sekarang Ordo Kapusin memberikan sumbangan keuangan yang cukup berarti. Kapusin menyediakan sumbangan ketenagaan juga di Badan Pengurus Direksi baik sebagai presiden maupun sebagai anggota.<br />
Ada juga beberapa Propinsi Kapusin yang memberikan sumbangan khusus kepada FI: a) Propinsi Swiss membayar ongkos sewa kantor di Genewa, (b) Propinsi New York-New England memberi sumbangan yang cukup berarti untuk sewa kantor di New York dan juga untuk penerbitan majalah FI “Pax et Bonum”, (c) Konperensi Kapusin Amerika Utara dan Pasifik (NAPCC) membiayai pembentukan “African Desk”.<br />
Pada bidang pendidikan KPKC, ada Franciscans International Africa Program, yang dibuat oleh FI secara langsung bagi para Fransiskan di akar rumput. Program tsb. adalah kursus pembinaan tiga tahap bagi para anggota Fransiskan di lapangan. Para peserta dibekali dengan kemampuan pada bidang advokasi dan capacity building, strategi untuk perubahan sosial yang secara sangat  mendalam diakarkan pada spiritualitas Fransiskan, standar hak-hak azasi manusia pada tingkat regional dan internasional dan juga perangkat-perangkat perkembangan sosial. Sudah tujuhbelas saudara mengikuti lokakarya di Afrika Timur, Madagaskar dan Kepulauan sekitarnya, Afrika Tengah dan Afrika Selatan. Para minister sangat mendukungnya. (www.franciscansinternational.org/issues/africadesk/index.php).<br />
Pada 2 Maret 2008 kantor baru FI di Bangkok untuk wilayah Asia-Pasifik dibuka. Pokok perhatian utama cabang ini ialah membela hak-hak azasi manusia, memajukan perdamaian, dan melestarikan alam semesta. Kantor ini juga menyelenggarakan sebuah pelatihan 3-7 Maret 2008 bagi para pemimpin Fransiskan dari wilayah Asia-Pasifik. Kursus ini menolong peserta melihat hubungan di antara Kitab Suci, Ajaran Sosial Gereja (ASG), warisan Fransiskan dengan konsep-konsep mengenai hak-hak azasi manusia dewasa ini. Dengan demikian para pemimpin tsb. akan semakin dapat mendukung dan mendampingi para saudara atau saudarinya setarekat yang saat ini berkarya atas aneka cara dengan orang yang hidup di dalam kemiskinan, ketidakadilan dan terpinggirkan. Alamat e-mail: bangkok@fiop.org.<br />
DPO VII mendukung kuat FI: “Semua bagian Ordo seharusnya bekerja-sama juga dengan Franciscans International yang merupakan organisasi utama kita di PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa). Ordo hendaknya rajin menyalurkan informasi kegiatan Franciscans International di PBB kepada semua saudara” (50); “di setiap Konperensi kegiatan Franciscans International hendaknya diperkenalkan dan didukung” (55). Untuk  infomasi selanjutnya  bukalah www.franciscansinternational.org).  </p>
<p>5. Dukungan terhadap Damietta Peace Initiative<br />
Damietta Peace Initiative bukan didirikan oleh Ordo Kapusin melainkan oleh Saudara-saudara Kapusin di Visepropinsi Afrika Selatan. Namun demikian Ordo mendukung lembaga ini bersama dengan Konperensi Keluarga Fransiskan (KKF) (bdk. Surat sekretaris KKF, Sdr. Stefano Recchia OFM, 21 Desember 2005).<br />
Damietta Peace Initiative adalah sebuah usaha damai Fransiskan di Africa. Misinya membangun &#8211; pada tingkat setempat dan nasional &#8211;  teori dan praktek anti-kekerasan, rekonsiliasi dan kepedulian terhadap ciptaan. Untuk mewujudkan misi ini Damietta Peace Initiative akan menggerakkan keduabelas ribu anggota Keluarga Fransiskan di seluruh Afrika. Dibentuk tim, yang dikenal dengan Pan-African Conciliation Teams (PACT), di kalangan masyarakat setempat, yang anggotanya berasal dari latarbelakang agama dan suku berbeda. Para Kapusin, selain dari Visepropinsi Afrika Selatan, di Visepropinsi Republik Demokrasi Kongo dan Visepropinsi Kenya telah terlibat di dalam proyek ini. Di daerah-daerah dimana kelompok Damietta Peace Initiative cabang Kenya telah bergerak, perang saudara setelah pemilihan umum di Kenya akhir tahun 2007 tidak seburuk di tempat-tempat lainnya.<br />
Kapitel general 2006 sekali lagi mendorong Ordo untuk memanfaatkan baik FI maupun Damietta Peace Inititiative ini. Rapat Definitorium general 7-26 Januari 2008 memutuskan menugaskan kantor KPKC mencari jalan memperkenalkan lembaga ini kepada seluruh Ordo.<br />
(www.damiettapeace.org.za/)</p>
<p>6. Pertemuan-pertemuan internasional mengenai KPKC<br />
Menindaklanjuti pengarahan definitorium general (hasil rapatnya 27 Oktober 2001) kantor bersama dengan komisi KPKC Ordo menyelenggarakan tiga pertemuan internasional: (1) Di Addis Ababa, Etiopia, 2-6 Pebruari 2004 dengan tema Persaudaraan Injili di Dunia yang ragam etnik. (2) Di Nagahuta – Pematangsiantar, Indonesia, 14-19 Pebruari 2005 dengan tema Membawa damai melalui Dialog antar Agama (Surat hasil pertemuan itu berjudul Mari ke Damietta). (3) Di Porto Alegre, Brasilia, 13-18 Maret 2006 tentang tema Persaudaraan Injili, Keadilan Ekonomis dan Pemberantasan Kemiskinan.</p>
<p>7. Kapitel general ke-82 (25 Juni – 16 Juli 2000)<br />
Di atas telah diutarakan bahwa pada kapitel general 2000 diambil sebuah keputusan yang mengikat sehubungan dengan KPKC. (Kapitel general 2006 mengulangi dorongan mendayagunakan FI dan Damietta Peace Initiative).</p>
<p>4. BEBERAPA TANDA YANG MEMBERIKAN SEMANGAT </p>
<p>Selain dari hal-hal di atas, ada beberapa tanda lain yang memberikan semangat. Sekarang ini lebih dari 40 sirkumpskripsi mempunyai kantor KPKC. Banyak saudara di pelbagai wilayah Ordo terlibat aktip melalui aneka gerakan dan kegiatan, seperti pendidikan untuk perdamaian, advokasi dan mediasi demi keadilan dan perdamaian, pelayanan bagi orang miskin di sektor pertanian, di tengah-tengah para perantau, gelandangan, tanpa tanah, etika investasi. Para Saudara Kapusin di Turki menyelenggarakan pertemuan tahunan dengan tokoh-tokoh agama Islam, yang semakin mencairkan hubungan Kristen dengan Islam. Pada 3 Januari 2008 para pengurus Persatuan Keluarga Fransiskan Kenya mengeluarkan surat kepada seluruh Keluarga Fransiskan di negara itu, mengajak untuk mengutamakan damai Kristus di atas segala perbedaan di tengah perang antar kelompok politik yang sedang mereka alami.</p>
<p>Beberapa contoh dari kalangan saudara Kapusin di Indonesia:<br />
1.	Pada bidang pemberantasan kemiskinan melalui pengembangan semangat “ekonomi persaudaraan” misalnya: almarhum Sdr. Fidelis Sihotang di Siantar Sitanduk, confratres di Kalimantan Barat dengan CU yang kemajuannya diakui di kalangan Gereja seluruh Indonesia, kelompok simpan-pinjam masayarakat di Sinaksak yang ditangani oleh para saudara di biara Alverna Sinaksak.<br />
2.	Pada bidang lingkungan hidup misalnya: Sdr. Agatho (pertanian organik di Cisarua), Sdr. Simon Sinaga (pemilah-milahan sampah, menanam pohon, melawan praktek menstrom ikan dan pembunuhan ular, penanaman pohon), Sdr. Samuel Sidin (pelestarian hutan luas di Gunung Benua Kalimantan Barat dengan memeliharanya serta menanam pohon yang sesuai dengan alam setempat), partisipasi kapusin di dalam aneka tahap proyek pelestarian alam yang ditangani oleh MATRIDA SUMUT; komisi KPKC Kapusin Propinsi Sibolga, Medan (dengan badan hukum serta program kerjanya), dan Keuskupan Agung Pontianak yang diketuai oleh Sdr. Yeremias Melis OFMCap.<br />
3.	Pada bidang perhatian terhadap “kaum pinggiran” misalnya: Sdr. Rochus Raesens yang bertahun-tahun membaktikan waktu, tenaga, pikiran, hati, hidup rohaninya bagi penderita penyakit kusta. Dia juga membela hak-hak azasi mereka serta keluarganya di hadapan pemerintah.</p>
<p>5. BEBERAPA TANTANGAN</p>
<p>Harus diakui juga bahwa cukup banyak saudara yang kurang yakin dan kurang tertarik terhadap KPKC. Hasil studi Komisi KPKC Persatuan Internasional para Pemimpin General Tarekat-tarekat religius (Roma) menunjukkan beberapa penghalang yang dihadapi oleh anggota hidup bakti sekaitan dengan nilai-nilai KPKC. Apakah ini kena kita juga?</p>
<p>Rasa takut adalah perintang yang paling besar.<br />
-	Banyak anggota termasuk pemimpin tarekat takut terjun dalam KPKC jangan-jangan hal itu merupakan penyimpangan dari karisma. Akibatnya anggota tarekat berpusar pada urusan-urusan intern sendiri; kepentingan orang-orang miskin dibelakangkan.<br />
-	Memberikan tenaga untuk KPKC ditakutkan mengancam keterjaminan pelaksanaan karya-karya tradisional tarekat. Personalia pada pos KPKC belakangan ditentukan dan paling mudah dipindahkan. Akibatnya program KPKC terlantar tidak berkesinambungan.<br />
-	Banyak tarekat takut bekerjasama dengan tarekat atau kelompok lainnya, jangan-jangan tarekat akan dirugikan.<br />
-	Khawatir bahwa cara hidup atau status quo (baik pribadi maupun kelompok/ komunitas) akan dipertanyakan bahkan digugat; takut terusik dari wilayah rasa aman.</p>
<p>Penghalang lainnya berkenaan dengan personalia penggerak KPKC.<br />
-	Dia kurang professional baik dari segi pengetahuan maupun ketrampilan. Teman setarekat tidak percaya jadinya.<br />
-	Orangnya kurang menampakkan komitmennya terhadap nilai-nilai KPKC melalui cara hidupnya sendiri. Kotbah, omongannya jitu tetapi kurang dihidupinya.<br />
-	Banyak beranggapan bahwa yang terjun pada bidang KPKC harus ahli. Bagi merekalah urusan KPKC; yang lain kurang mendapat pembinaan persiapan yang memadai untuk itu.</p>
<p>Kemudian penghalang lain berkaitan dengan gambaran terhadap KPKC.<br />
-	Bidang KPKC itu sangat luas sehingga tidak tahu mau mulai dimana; rumit juga, membutuhkan keahlian, dan cocok bagi awam atau religius pilihan. Erat dengan itu sering sekali KPKC dilihat sebagai “ekstra pilihan”.<br />
-	Ada orang menaruh pengharapan yang berlebihan terhadap KPKC. Mereka sangat kesal bila tidak melihat suatu hasil yang cukup nyata; pesimis terhadap pertemuan-pertemuan, rapat-rapat bahkan terhadap komisi atau kelompok KPKC secara umum. Hal lebih jelek bisa muncul,  yakni godaan untuk jatuh ke fatalisme dan kembali ikut ke arus umum.</p>
<p>Penghambat lainnya ialah “spiritualitas yang tidak menjelma”.<br />
Hidup rohani bersifat individualistik, dipusatkan pada doa serta hidup batin yang hampir tidak disentuh oleh begitu banyaknya penderitaan, ketidakadilan yang ada di dunia kita dewasa ini, padahal keadaan menyedihkan tsb. sangat dekat dengan tempat kita tinggal, hidup, berkarya dan berdoa. KPKC itu sesuatu yang berada di luar sana, bukan urusan orang hidup bakti. </p>
<p>6. LANDASAN ROHANI KPKC</p>
<p>Untuk lebih mendalami lagi pentingnya KPKC, sambil menyadari tantangan real halangan-halangan di atas, marilah melihat secara lebih khusus landasan rohaninya (spiritualitas yang menjelma). [Uraian berikut ini diringkas dari John Fuellenbach, SVD, Throw Fire (Manila: Society of the Divine Word, 1998, hal. 193-218)]<br />
Kotbah dan perbuatan Yesus berpusat sekitar Kerajaan Allah. Lukisan Kitab Suci yang paling baik menggambarkan KA itu diberikan oleh Paulus: “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus” (Rm 14:17). [Kata ‘kebenaran’ di dalam terjemahan Indonesia ini adalah kata untuk ‘keadilan’/ ‘justice’ misalnya di dalam The New American Bible]. Ungkapan ini punya kesejajaran dengan perkataan Yesus: “Janganlah kuatir akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula….Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah” (bdk. Mt 6:25-33 dan Lk 12:22-31). Yesus berkata: “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu… Kuk yang Kupasang itu enak dan bebanKupun ringan” (Mt 11:29-30).<br />
Kutipan Paulus ini mencakup karunia-karunia pribadi, batiniah, rohaniah seperti misalnya dibenarkan di hadapan Allah, damai di dalam pikiran dan hati karena pengampunan atas dosa-dosa. Namun lebih dari itu, damai berarti terutama, keamanan tatanan sosial, dilawankan dengan perang; keadilan berarti kebaikan dan kebenaran di dalam hubungan sosial; dan sukacita merupakan rahmat yang dibawa oleh damai dan keadilan (bdk. B. Viviano, The Kingdom of God in History, hal. 8). “Mencari Kerajaan Allah” dan “memikul kuk” berarti mengabdikan diri demi Kerajaan itu dengan menghidupi nilai-nilai keadilan, damai dan sukacita. Nilai-nilai ini bukan saja perasaan melainkan kenyataan yang harus diwujudkan di dunia ini. Ketiga hal inilah nilai-nilai dasar Kerajaan Allah. </p>
<p>Keadilam di dalam Perjanjian Lama<br />
Terjemahan yang paling tepat untuk keadilan menurut Kitab Suci adalah HUBUNGAN-HUBUNGAN YANG BENAR atau lebih baik lagi HUBUNGAN-HUBUNGAN YANG MENGHIDUPKAN. Hubungan ini mencakup: dengan Allah, diri sendiri, tetangga baik sebagai pribadi maupun sebagai bagian masyarakat, dan keseluruhan ciptaan.<br />
Kata-kata Ibrani sedeq, mishpat, dan sedaqah bersama dengan hesed dan emeth  berkenaan dengan hubungan sosial dan pembelaan terhadap orang lemah dan korban, pembebasan kaum tertindas. Semuanya ini sangat penting di dalam sikap dan tingkah laku orang Israel serta mencerminkan siapa Allah, yakni yang membela orang lemah dan membebaskan mereka dari para penindas. Allah Kitab Suci adalah Allah yang peduli dengan hubungan-hubungan sosial serta cara hubungan itu dilembagakan di Israel.<br />
Walter Brueggemann melukiskan: “Keadilan adalah memeriksa hal-hal apa yang menjadi bagian seseorang dan memberikan itu kepadanya. Disini terkandung pembagian barang secara benar dan hak atas sumber-sumber yang dibutuhkan untuk hidup. Ada hal yang tidak dapat ditawar. Memang di dalam rekayasa yang tidak seimbang di dalam proses sejarah, ada orang yang merampas dan menguasai hal-hal yang menjadi milik orang lain. Kalau kita cukup lama menguasai milik orang lain, kita berpikir bahwa hal itu adalah benar milik kita, dan kita lupa bahwa itu sesungguhnya milik seseorang lain. Oleh karena itu pembebasan, penebusan, penyelamatan adalah pekerjaan untuk ‘memberikan kembali’. Menurut Kitab Suci kalau terjadi perampasan milik, akan timbul masalah, kekacauan dan kematian. Maka keadilan Allah semenjak awal mempunyai unsur dinamis dan transformatip. Keadilan menuntut perubahan, dan harus terjadi perubahan untuk mendapat hidup di dalam kelimpahan (To Act Justly, Love Tenderly, Walk Humbly, hal. 5).<br />
Keadilan adalah pemberian; manusia tidak dapat memahaminya dari diri sendiri. Hanya Allah yang adil dan ukuran entah kita adil adalah sejauh mana kita terbuka kepada Allah dan mengenal Dia: “mengenal Allah berarti melakukan keadilan” (bdk. Yer 22:16). Hanya orang yang membuka diri terhadap Kerajaan Allah dan membiarkan dayanya yang “menghidupkan” itu meresapi dirinya dapat tahu dengan sesungguhnya arti dari hubungan-hubungan yang benar.</p>
<p>Keadilan dan ibadat di dalam Perjanjian Lama<br />
Di dalam PL keadilan sering dikaitkan dengan ibadat. “Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak? firman Tuhan; “Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran berupa domba jantan dan akan lemak dari anak lembu gemukan… Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku. Kalau kamu merayakan bulan baru dan sabat atau mengadakan pertemuan-pertemuan….Aku benci melihatnya…belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda” (Yes 1:11-17). Keadilan terhadap sesama adalah tanggungjawab kemanusiaan yang paling utama dan terpenting, bahkan di atas kewajiban ibadat. Tidak ada doa, kesalehan, kurban yang akan berkenan pada Allah bila semua itu kita pakai untuk melarikan diri dari kewajiban utama untuk masuk di dalam hubungan yang menghidupkan dengan Allah, diri sendiri, sesama manusia dan ciptaan.</p>
<p>Keadilan di dalam Perjanjian Baru<br />
Di dalam PB paham mengenai keadilan dikaitkan dengan tema Kerajaan Allah dimana keadilan dimengerti sebagai hubungan yang menghidupkan. Yesus mengalami Allah sebagai Bapa yang murah hati dan maha cinta. “Hukum murah hati” dari Lk 6: 27-36 (“Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati”) menggantikan “hukum kekudusan” dari Im 19:2 (“Kuduslah kamu, sebab Aku, Tuhan, Allahmu, kudus”) sebagai norma sikap dan tingkahlaku keagamaan (bdk. Lk 10:30-37: Dengan melewatkan si korban imam itu murni secara ritual dan dia melaksanakan perintah hukum. Akan tetapi Yesus menegaskan bahwa kemurahan hatilah yang berkenan pada Allah, bukan kekudusan yang tidak mengindahkan kemurahan hati manusiawi). Bagi Yesus kekudusan dan kemurnian yang tidak peduli kepada orang yang sedang membutuhkan melawan kewajiban utama yang dituntut oleh Allah dari setiap kita, yakni melakukan keadilan, yang berarti masuk ke dalam hubungan yang menghidupkan dengan sesama.<br />
Yesus mengerti bahwa Dia diutus untuk memulihkan Perjanjian, memaklumkan Kerajaan. Dia menunjukkan bahwa Kerajaan Allah adalah mencipta suatu persekutuan yang baru di mana semua orang menjadi saudara dan saudari, tidak ada lagi marjinalisasi, sebaliknya semua berkumpul di dalam satu keluarga besar yang terdiri dari orang-orang yang dicipta seturut gambaran dan rupa Allah. Kerajaan Allah terbuka bagi setiap orang, mengatasi semua batasan-batasan, menjangkau semua orang dengan mencipta hubungan-hubungan yang menghidupkan serta merangkul setiap orang dengan cinta dan kemurahan hati, orang benar maupun pendosa yang secara istimewa membutuhkan kasih pengampunan dari Allah. Jadi, keadilan adalah paham kunci bagi Yesus untuk mengerti seluruh hidup dan pelayanan-Nya.<br />
Yang menjadi perutusan para murid adalah juga: pergi ke seluruh dunia dan mengumpulkan orang dari semua bangsa, suku dan budaya ke dalam keluarga besar Allah, membangun keadilan Allah di bumi (bdk. Mt 19:28; “Kedatangan Allah untuk menghakimi [Yunani krinein] bangsa-bangsa” berarti bahwa Dia akan membangun keadilan di tengah-tengah umat-Nya dan melalui mereka di antara semua bangsa; Dia akan memberikan kepada dunia keadilan dan perdamaian yang baru. Inilah perutusan dasar para murid/ Gereja). “Menjadi murid berarti meletakkan kaki di jejak kaki Yesus, dan di dalam kuasa Roh, melanjutkan perutusan untuk memaklumkan dan menunjukkan tanda-tanda datangnya Kerajaan Allah itu secara nyata sepanjang sejarah. Bersama-sama sebagai Gereja, persekutuan para murid dipanggil secara istimewa menjadi ‘alat’ Kerajaan Allah di dalam sejarah. Karena damai dan keadilan adalah merupakan tanda-tanda yang paling menonjol dari Kerajaan Allah yang hadir di dunia, maka adalah perutusan hakiki bagi Gereja membuat kenyataan-kenyataan ini lebih kelihatan pada masa kita yang begitu ditandai dengan penindasan, kekerasan, ketidakadilan dan ancaman menuju kehancuran total” (E. Johnson, Consider Jesus, hal. 77).</p>
<p>Keadilan dan keutuhan ciptaan<br />
Pokok mengenai keadilan, yang dimengerti sebagai hubungan yang menghidupkan, juga mencakup hubungan kita dengan alam. Kita tidak dapat menjadi manusiawi dan benar manusiawi jika kita tidak mengembangkan hubungan kita dengan alam sesuai dengan nilai-nilai Kerajaan Allah. Kerajaan itu, yang hadir sekarang disini, menuntut dari setiap kita yang menyatakan diri murid Yesus hubungan yang menghidupkan dengan alam.<br />
Dari sudut pandang Kitab Suci, alam ciptaan adalah bagian dari tatanan moral yang tidak dapat diabaikan. Hubungan di antara manusia dengan lingkungan hidup itu simbiotik – saling mendukung, saling tergantung, hidup bersama dengan – bukan parasit terhadapnya. “Keselamatan berkenaan dengan penyembuhan dan, sama seperti kosmos sendiri dapat dirusak dan dicabik-cabik oleh ketidakadilan, demikian pula kosmos itu dapat disembuhkan oleh usaha manusia untuk membawa damai, yakni keseimbangan, kembali ke hubungan manusia dengan tanah, udara, api, air, dan satu sama lain” (Fox mengutipnya di dalam Earthspirit, hal. 49).</p>
<p>Damai<br />
Damai adalah kenyataan yang menyusul dimana keadilan meraja. Tidak mungkin ada damai tanpa keadilan. Damai terkait dengan empat hubungan dasar kita: dengan Allah, diri kita sendiri, sesama dan alam. Damai adalah pemberian dari Allah, bukan sesuatu yang dapat kita hasilkan sendiri. </p>
<p>Damai di dalam Perjanjian Lama<br />
Untuk memahami damai di dalam PL kita menggunakan kata “shalom” yang menunjuk kepada keutuhan, kesehatan dan kesejahteraan sempurna. Di dalam alam pikiran Yunani damai berarti tidak ada perang. Di dalam alam pikiran Ibrani lawan dari shalom bukan perang melainkan ketidakadilan (bdk. H. Hendrickx, Peace, Anyone?, hal. 10).<br />
Paham mengenai shalom di dalam PL diungkapkan dengan sangat baik pada sebuah teks yang ditulis dua kali, di dalam Mika dan Yesaya. …mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak, dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang. Tetapi mereka masing-masing akan duduk di bawah pohon anggurnya dan di bawah pohon aranya dengan tidak ada yang mengejutkan, sebab mulut Tuhan semesta alam yang mengatakannya (Mi 4:3-4; lih. Yes 2:4).<br />
Mika memberikan gambaran keadaan bila para bangsa tunduk kepada Kerajaan Allah, dengan dua perubahan mendasar: (1) tidak akan ada lagi perang atau latihan perang dan tidak ada lagi pabrik alat perang; (2) kembali ke cara hidup sederhana dan damai, yang tidak cemas akan penumpukan terus-menerus melainkan memupuk hubungan antar pribadi. Damai yang digambarkan disini menuntut perubahan prioritas dimana ketamakan dan eksploitasi berakhir dan digantikan oleh tatanan hidup sosial yang sama sekali baru. (N.B. dua hal besar yang menggoda manusia semenjak awal teristimewa pada zaman kita: mentalitas perang dan mentalitas konsumer).<br />
Yes 65:20-23 memberikan suatu gambaran lain kalau manusia melaksanakan damai Kerajaan Allah. Allah merindukan bahwa tidak ada bayi yang akan mati, bahwa orang tua akan hidup layak, dan mereka yang bekerja akan menikmati hasil pekerjaannya. Teks ini bukan berbicara mengenai hal-hal yang paling menyenangkan hati Allah seperti misalnya orang yang secara sempurna berkembang dan bahagia, melainkan mengenai hal-hal sederhana di dalam hidup manusia kini dan disini. Dan untuk mencapai hal itu masing-masing orang dapat memberikan sumbangan di dalam antar hubungan mereka, sehingga Kerajaan Allah itu tinggal di tengah-tengah mereka. Inilah yang berkenan pada Allah. </p>
<p>Damai di dalam Perjanjian Baru<br />
Bagi Yesus damai berarti keutuhan, mencakup unsur-unsur badani, sosial dan rohani. Waktu Yesus menyembuhkan seseorang Dia berkata, “Pergilah dalam damai” (Mk 5:34; Lk 8:48). Penyembuhan ini bukan hanya badaniah melainkan juga sosial; orangnya dipersatukan kembali ke dalam masyarakat (Lk 8:48; Lk 7:50).<br />
Damai sebagai hubungan yang benar dengan Allah atau dengan Kristus dekat dengan pendamaian dan harmoni. Allah bertindak untuk memasukkan manusia kembali di dalam hubungan yang benar dengan diri-Nya (Rm 5:1; Kis 10: 10:36). Damai sebagai hubungan yang baik di antara manusia adalah perluasan logis dan alamiah dari pengertian tentang damai tsb. Hubungan yang benar dengan Allah harus membawa hubungan yang baik di antara sesama manusia. Hidup di dalam damai berarti, secara positip, hidup di dalam harmoni, dan secara negatip, menghindarkan tindakan yang mengakibatkan ketidak harmonisan atau perselisihan (Mk 9:50; 2Kor 13:11; Kol 3:15).<br />
Damai yang diperoleh Yesus bagi kita melalui sengsara dan kematianNya, serta yang Dia tinggalkan dan berikan bagi kita (Yo 14:27) memasukkan kita ke dalam hubungan yang benar dengan Allah dan dengan sesama. Kita lalu mengalami damai dalam batin dan pikiran, ketenangan dan ketenteraman. “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahteraKu Kuberikan kepadamu” (Yo 14:27). “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku” (Yo 16:33). Yesus membawa ke dunia ini pendamaian dunia dengan Allah, damai eskatologis (Yo 20:19, 21, 26). Oleh karena itu, hal-hal yang berkenaan dengan Kerajaan berkenaan dengan damai.</p>
<p>Di dalam Roh Kudus<br />
Karena Kerajaan di dunia ini adalah antisipasi dari Surga baru dan Dunia baru, maka hanya Roh Kudus yang dapat membawa Kerajaan itu. Sedangkan kita hanya dapat menerima pemberian Kerajaan itu sebagai “rasa pendahuluan” atau “pertanda” dari yang akan datang. Setiap orang yang membuka dirinya terhadap kehadiran Kerajaan itu sekarang ini akan menerima pemberian tsb. Ukuran apakah seseorang menerima Kerajaan itu di dalam dirinya, serta ukuran sejauh mana dia menerimanya, adalah sejauh mana orangnya memberikan diri untuk membawa dan membangun keadilan, damai dan sukacita.</p>
<p>7. MENGERTI KPKC DARI SEGI HIDUP ST. FRANSISKUS DARI ASISI</p>
<p>St. Fransiskus merenungkan kebesaran yang diperbuat oleh Allah di dalam ciptaan dan hal-hal yang dikerjakan-Nya melalui Putera-Nya Yesus Kristus. Dia mengagumi betapa dunia ditebus dan manusia diselamatkan (bdk AngTBul 23, 1-4). Di dalam renungan tsb. dia sendiri mengalami pengampunan, belaskasihan dan rahmat cuma-cuma dari Allah. Semuanya ini membawa damai di dalam hatinya (bdk 1Cel 26) dan melahirkan di dalam dirinya misi untuk mewartakan perdamaian.<br />
Misi demi perdamaian itu dia lakukan melalui salam yang khusus. Kemana saja dia pergi dan dimana saja dia berbicara kepada orang di dalam kotbah (bdk  Cermin Kesempurnaan 26, Legenda Perugia 67, 1Cel 23, 3Sahabat 26) Fransiskus dan Keluarga Fransiskan awal selalu menyampaikan salam “Semoga Tuhan memberi engkau damai” (Was 23). Bukan hanya melalui salam, melainkan Fransiskus juga mengambil inisiatip untuk bertindak dimana ada kebutuhan konkrit akan perdamaian. Hal itu dapat dilihat dari peristiwa-peristiwa penting seperti misalnya rekonsiliasi di antara walikota dengan Uskup Asisi (bdk Legenda Perugia 84), perdamaian kota Arezzo dan kota-kota lainnya (bdk 2Cel 108; Fioretti 11), kunjungan St. Fransiskus kepada Sultan (bdk 1Cel 57) dan kisah Gubbio (bdk Fioretti 21).<br />
Fransiskus tidak pernah melihat ciptaan lepas dari Pencipta. Ciptaan itu adalah pernyataan diri Allah, diserap oleh cinta Allah (SP 113). Maka ia membangun hubungan baru dengan segala ciptaan: *) tidak memperlakukannya sebagai obyek kenikmatan dan kuasa, melainkan menganggap,  mencintainya sebagai saudara dan saudari serta menjadi pemelihara dan penjaga baginya (LM VIII,6), *) tidak mau memiliki, menguasai dan mempersengketakannya (AntTBul 7,13). Fransiskus mengudang segala makhluk (LM VIII,9) dan memadukan suara mereka untuk memuji Allah (LP 43; 2Cel 127; SP 100) (bdk. Sdr. Christoforus Marpaung di dalam PERSAUDARAAN [Majalah Ordo Kapusin Propinsi Medan No. 1/ I, Okt – Des 2003] hal. 18-25).<br />
Fransiskus mengikuti Kristus yang miskin, yang “walaupun kaya, Ia telah menjadi miskin agar kita kaya” (2Kor 8:9). Dia “tidak menahan sesuatu pun yang ada padanya bagi dirinya sendiri” (bdk. SurOr 29). Di dalam pilihan kemiskinan material itu termasuk juga pilihan atas kedinaan, menjadi ‘orang kecil’, rendah hati, tidak merebut kuasa (bdk. Pth 2:3; 3; 4; 6:4), solider dengan orang yang membutuhkan dan tersisih. St. Fransiskus tidak mau merebut harta, milik. Dia mau bebas dari kelobaan, keserakahan. Sebaliknya, dia mendorong untuk berbagi barang material dengan sesama: “karena jika seorang ibu mengasuh dan mengasihi anaknya yang badani (bdk. 1 Tes 2:7), betapa lebih saksama lagi seorang saudara harus mengasihi dan mengasuh saudaranya yang rohani?” (AngBul 6:8).<br />
Pilihan St. Fransiskus untuk hidup solider dan miskin injili (=mengikuti Yesus Kristus) mempunyai dampak rangkap tiga: a) meneguhkan dan melindungi identitas persaudaraannya sebagai ‘saudara-saudara dina’; b) memisahkan mereka dari ketidakadilan dan kesenjangan sosial yang menonjol pada masa itu; c) menampakkan kepada dunia suatu model hubungan manusiawi yang dapat dilihat bertentangan dengan model umum yang berlaku saat itu. </p>
<p>8. MENINGKATKAN KOMITMEN KITA KE DEPAN</p>
<p>Karena nilai-nilai KPKC harus hadir di dalam setiap bagian eksistensi kita (hubungan dengan Allah, relasi-relasi persaudaraan, pewartaan, pembinaan, dan semua lainnya), maka kita perlu bertanya “Apa yang harus kita perbuat berhubungan dengan hal-hal yang mendesak yang kita hadapi, seperti hak-hak azasi manusia (untuk hidup yang layak dan bermartabat, kebebasan dari situasi yang menindas, untuk memperoleh pendapatan yang cukup untuk menopang hidup keluarga, dll), pemanasan bumi, naiknya permukaan air, perang memperebutkan sumber-sumber alam seperti minyak dan air, dan sampah yang kita sendiri hasilkan?”<br />
Di dalam peningkatan komitmen kita ke depan, di bawah ini ada beberapa buah pikiran untuk dipertimbangkan menuju praksis (aksi dan refleksi) selanjutnya.</p>
<p>1.	KPKC sebagai cara atau gaya hidup<br />
DPO V memang menyebutkan bahwa salah satu jalan untuk mendorong dan membuat para saudara sanggup berkecimpung di dalam KPKC ialah pendidikan para ahli (98). Akan tetapi bukan itu jalan satu-satunya. Tanpa menyangkal pentingnya keahlian professional sampai derajat tertentu, komitmen terhadap KPKC adalah  merupakan suatu cara atau gaya hidup, bagaimana kita secara pribadi maupun bersama menghidupi nilai-nilai KPKC itu. </p>
<p>2.	Pribadi<br />
Bagaimanapun pribadi-pribadi adalah pihak yang paling pokok di dalam mengamalkan nilai-nilai KPKC. Masing-masing harus yakin akan nilai-nilai tsb. Dia harus tegas mendukung ketentuan komunitas, sambil kreatip memilih caranya untuk terlibat. Di dalam hal damai hendaknya kita “murah hati, suka damai dan tidak berlagak, lembut dan rendah hati, sopan santun dalam berbicara dengan semua orang, sebagaimana pantasnya” (AngBul III). Di dalam hal pelestarian alam: mengurus sampah di komunitas, berpikir dulu sebelum mencetak sebuah tulisan, memilih naik kendaraan umum atau sepeda? Di bidang keadilan: setelah mengerti permasalahan turut menandatangani surat yang diajukan misalnya kepada G8, gencatan senjata (di Gaza), penyiksaan terhadap imam Budha di Birma, diskriminasi agama di Orisa-India? Dengan begini kita “berpikir global, bertindak lokal dan global”. </p>
<p>3.	Komunitas<br />
Pertama-tama di dalam komunitaslah nilai-nilai keadilan, perdamaian dan hormat terhadap ciptaan kita hidupi di antara kita sendiri, terhadap orang yang bekerja bagi kita, lingkungan hidup kita yang konkrit. Setiap komunitas perlu mempunyai program KPKC-nya sendiri. Dengan demikian terhindar pemahaman yang salah bahwa KPKC hanya urusan orang-orang tertentu dan komisi KPKC propinsi saja. Di setiap komunitas perlu ada seorang animator, yang sekaligus menjadi penghubung juga dengan komisi KPKC propinsi.</p>
<p>4.	Bergerak maju dari karya amal ke pendekatan hak azasi manusia<br />
Kita perlu bergerak maju dari keterlibatan pada tingkat karya amal (kesejahteraan sosial) ke bidang yang lebih dalam yakni pemberantasan kemiskinan (keadilan sosial) melalui advokasi hukum dan politik, perkembangan dan pembangunan perdamaian, animasi dan pemberdayaan (bdk. DPO V, 81 dan VI, 25). Perlu kita lihat struktur dan sistem-sistem yang terkait dengan penindasan dan marjinalisasi yang diderita oleh para pengungsi, tahanan, suku asli, pekerja migran, orang yang diperjual-belikan, penganggur, pekerja di bawah umur, kaum perempuan, orang cacad mental, bumi kita sendiri. Karya amal, keadilan sosial, bahkan belaskasihan (Allah) hendaknya sekaligus menjadi  perhatian dan usaha kita. Kiranya spiritualitas Fransiskus, yakni menghormati setiap ciptaan dan manusia, perlu diterapkan pada situasi kita kini dengan pendekatan hak-hak azasi manusia, yang didasari atas martabat setiap pribadi manusia.</p>
<p>5.	Hidup dekat dengan orang-orang kecil dan analisis sosial<br />
Sering kedengaran bahwa kita terlalu banyak berbicara dan kurang berbuat. Barangkali hal ini terjadi karena kita tidak melihat secara benar situasi yang kita hadapi, kita tidak menganalisanya secara cukup mendalam, karena kita masih kurang terjun di dalam kenyataan sekitar kita. Dunia sekeliling kita tidak akan dapat dimengerti dengan pandangan sekilas. Kita perlu mengadakan: (1) pengamatan yang mendalam akan situasi itu, termasuk reaksi-reaksi kita terhadap apa yang kita lihat dan daftar kebutuhan konkrit orang-orang yang terkait disitu; (2) suatu analisa situasi sambil bertanya mengenai masalah-masalah yang mendasari keadaan tsb, mengapa hal ini merupakan sesuatu yang tidak adil dan tidak dapat diterima, siapa yang diuntungkan, dan hal-hal apa yang perlu ditempuh untuk menangani masalah tsb; (3) perumusan model-model alternatip yang adil dan memungkinkan, apa diharapkan Yesus kita perbuat; (4) penetapan jurus-jurus konkrit untuk menerapkan model-model tsb. menjadi kenyataan serta membulatkan tekad untuk benar melaksanakannya. </p>
<p>6.	Aspek kontemplatip – doa<br />
Melalui doa pribadi, doa komunitas serta perayaan-perayaan liturgi lainnya, kita semakin mengenal Yesus Kristus yang memperjuangkan keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan sebagai nilai-nilai real Kerajaan Allah. Seperti dialami oleh St. Fransiskus, di dalam doa kita sadari bahwa sumber nilai-nilai itu adalah Allah sendiri, bukan diri kita. Roh-Nya adalah pembangun utama kesatuan, keadilan dan perdamaian di dunia. Kita menerima, mengalami keselamatan, serta merasa dipanggil untuk meneruskannya. Di dalam ekaristi kita merasa dikuatkan oleh roti yang dipecah-pecahkan untuk keselamatan dunia dan mengambil bagian melanjutkan penyelamatan itu. Untuk dapat menilai nilai komitmen dan pelayanan kita pada bidang KPKC perlu kita menanya diri “Apakah ‘peraturanku sendiri’ atau ‘peraturan Roh’ yang memberi hidup kepadaku?”<br />
“Kegiatan damai, keadilan dan ekologi bagi para fransiskan harus terutama didorong oleh kerohanian; dorongan rohani inilah yang mendasari alasan-alasan politik, sosial atau kemanusiaan. Dengan landasan atas kerohanian tsb. setiap Fransiskan akan sanggup membangkitkan harapan pada diri orang lain, bahkan pada situasi yang sangat menekan sekalipun. Dasar kerohanian menolong mereka yang sangat aktip terlibat untuk tidak menjadi jenuh, atau kehabisan semangat atau tergoda untuk menyerah di masa-masa sulit. Secara teologis, konteks untuk semua kerohanian perdamaian adalah pertobatan pribadi dan memperjuangkan Kerajaan Allah di dunia.”</p>
<p>7.	Kerjasama<br />
Kita selalu didorong oleh Gereja dan Ordo untuk bekerjasama dengan mereka-mereka yang berkehendak baik dan yang berkeprihatinan serupa (bdk Konst. 99). Mari bekerja sama dengan kelompok yang telah duluan dan barangkali lebih maju dari kita, mis. yang diasuh oleh tarekat-tarekat religius lain ataupun keuskupan. Bila kapusinlah yang lebih maju di wilayah kita, mari mengajak pihak-pihak lain untuk bergerak. Beberapa tahun yang lalu KOPTARI dan MATRIDA giat menganimasi kaum religius dalam bidang KPKC. Tahun 2003 kapusin mengikuti semiloka KPKC di Jakarta yang diselenggarakan oleh OFM bagi keluarga fransiskan se-Indonesia. Tahun 2007 Kapusin propinsi Medan bekerjasama dengan Sekretariat Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Jayapura (direkturnya Sdr. Budi Hernawan OFM ke Medan; Sdr. Hilarius Kemit studi banding). Adakah kerja sama kita dengan KWI untuk meningkatkan kekuatan misi Gereja di Indonesia (bdk. Nota Pastoral semenjak beberapa tahun terakhir ini, tema APP 2008), juga dengan wilayah gerejawi Kalimantan dalam rangka surat gembala para Uskup mengenai pelestarian alam Kalimantan?<br />
Mari mengajukan hal yang kita harapkan dari Komisi/ Kantor KPKC Ordo. Kita manfaatkan lembaga-lembaga yang sudah ada, seperti Damietta Peace Initiative dan FI, Franciscans International Asia Pacific (FIAP) di Bangkok. Pada 2008 FIAP masih berencana menyelenggarakan pelatihan mengenai: Hak-hak anak, hak-hak orang-orang yang diperdagangkan, manajemen ekosistem yang berpusat pada manusia, mengenal sistem hak-hak azasi manusia yang ada di PBB. Mari cepat mencari tahu mengenai program mereka untuk 2009. Manfaatkan kesempatan magang (intern) di ketiga kantor FI!<br />
Bagaimana kerjasama di antara ketiga propinsi Kapusin di Indonesia pada bidang KPKC ini? (bdk. DPO VII, 55). Banyak energi, personalia, uang barangkali dihemat. Kita berbuat sesuatu yang mungkin di dalam bingkai keterbatasan-keterbatasan kita.</p>
<p>8.	Kerjasama dengan Komisi Pendidikan dan Revisi Program Pembinaan<br />
Bidang KPKC seharusnya menjadi bagian utuh seluruh pembinaan Kapusin kita, mulai dari pembinaan awal (bdk DPO VI 7, 8 dan Kapitel general 2000). Pendidikan itu dapat dijalankan melalui semua unsur pembinaan itu seperti pelajaran (pengetahuan akan seluk-beluk ketidakadilan, konflik-konflik, masalah-masalah ekologis), rohani (konperensi, bimbingan pribadi, khotbah), relasi (hubungan dengan para saudara dan orang lain yang bekerja bagi kita di rumah pendidikan) dan kerja harian (hormat terhadap alam ciptaan), karya kerasulan (hormat terhadap orang, adil di dalam pergaulan, mempromosikan pokok KPKC di dalam pengajaran), mengemban karya (mempraktekkan nilai-nilai KPKC kepada teman sekerja, orang-orang yang kita tolong, terhadap alam lingkungan), pengalaman terjun di lingkungan hidup atau pekerjaan dimana banyak orang sering mengalami ketidakadilan, kekerasan, dan ketidak pedulian terhadap alam lingkungan, dengan pembekalan membuat analisis kenyataan sosial yang dihadapi. Semakin cepat para saudara muda menjalani pembinaan di bidang KPKC ini, dapat diharapkan bahwa mereka semakin mantap di dalam pengamalan nilai-nilai KPKC itu di dalam perjalan hidup mereka selanjutnya.<br />
DPO VI yang sama ini menegaskan bahwa nilai kemiskinan injili adalah sebuah alternatip untuk zaman kita. Maka pokok-pokok yang dikatakan barusan tadi, hendaknya menjadi bahan garapan utama juga pada pembinaan lanjut, serta terintegrasi di dalam karya kerasulan yang kita emban. Melalui tanda-tanda zaman dan perubahan-perubahan yang pesat pada masa kita kini, Roh Tuhan dengan kuat memanggil kita menuju suatu pembaharuan yang mendasar dalam visi dan hidup, sehingga hidup bakti yang kita jalani ini dapat mendampingi perubahan-perubahan yang sedang terjadi di sekitar kita. Bina lanjut seharusnya membantu kita menciptakan hidup bakti yang baru ini; tidak memadai ‘hanya untuk bisa bertahan hidup’.<br />
Perlu kerjasama antar komisi di Propinsi: KPKC, Pendidikan (ada Evangelisasi/Kerasulan?).</p>
<p>9.	Pentingnya KPKC Propinsi<br />
Komisi KPKC propinsi perlu dibentuk, didukung dengan Anggaran Dasar yg jelas, personalia, keuangan yang memadai untuk karyanya, azas subsidiaritas dalam hubungan dengan propinsi (bdk. DPO V, 97). </p>
<p>Komisi ini bertugas a.l.:<br />
-	Membantu minister propinsial dan para penasehatnya di dalam melaksanakan tugas mereka menganimasi seluruh persaudaraan sepropinsi pada bidang ini.<br />
-	Membantu komunitas-komunitas dan pribadi-pribadi di seluruh persaudaraan sepropinsi untuk menghidupi nilai-nilai KPKC melalui aneka bentuk (seminar, tulisan, informasi bahan-bahan, kunjungan). Komunitas perlu dibekalinya dengan aneka hal seperti spiritualitas KPKC (Kitab Suci, Ajaran Sosial Gereja (ASG), fransiskan), hak azasi manusia, ketrampilan analisis sosial, ketrampilan menyusun program.<br />
-	Menjalin hubungan kerjasama dengan pihak-pihak lain yang peduli dengan KPKC baik pada level regional, nasional, maupun internasional, seperti misalnya Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), MATRIDA, Keuskupan, Gereja di Indonesia, Ordo, dll.<br />
-	Menangani langsung beberapa proyek KPKC sejauh mendukung tugas penganimasian saudara dan komunitas-komunitas.</p>
<p>10.	Konperensi internasional mengenai KPKC<br />
Ketiga surat hasil pertemuan internasioanl Ordo mengenai KPKC (di Addis Abeba, Nagahuta, Porto Alegre; “Persaudaraan Injili di Dunia yang ragam etnik”,  “Mari ke Damietta”, “Persaudaraan Injili, Keadilan Ekonomis dan Pemberantasan Kemiskinan”) sangat bagus ditinjau dari segi isi, gaya penyajian serta relevansinya. Maka ketiga surat tsb. hendaknya digunakan di dalam refleksi pendalaman kita demi aksi. Beberapa propinsi dan beberapa saudara pribadi telah menggunakan surat ini sebagai sumber konperensi, makalah baik untuk kalangan persaudaraan Kapusin maupun untuk kalangan luar.</p>
<p>9. LEBIH KHUSUS BERKENAAN DENGAN MISI</p>
<p>Hendaknya terang bagi kita nilai injili yang hendak kita wartakan di “tempat baru”. Nilai-nilai KPKC termasuk di dalamnya? Catatan-catatan berikut bersumber pada dokumen fransiskan dan Ordo kita.</p>
<p>1.	“Damai” mendapat tekanan penting sekali:<br />
a-	“Akupun menganjurkan, menasihatkan, dan mengajak saudara-saudaraku dalam Tuhan Yesus Kristus, agar sewaktu bepergian di dunia, janganlah mereka berselisih dan bertengkar mulut dan menghakimi orang lain; tetapi hendaklah mereka itu murah hati, suka damai dan tidak berlagak, lembut dan rendah hati, sopan santun dalam berbicara dengan semua orang, sebagaimana pantasnya” (AngBul III).<br />
b-	Mengingat St. Fransiskus yang mengutus teman-temannya ke seluruh dunia seturut teladan murid-murid Kristus, para saudara hendaknya mewartakan damai dimana-mana dengan kata dan dengan hidup (Konst. 179).</p>
<p>2.	DPO VII merenungkan “Hidup Persaudaraan Kita dalam Kedinaan” sebagai musafir dan perantau di dunia ini.<br />
a-	kehadiran di daerah miskin<br />
Nomor 49 berbicara mengenai “tempat baru”. Demi pengambilan bagian aktip dalam pembebasan orang miskin melalui tinggal di antara mereka sebagai teman seperjalanan, bagian-bagian Ordo perlu mempunyai sekurang-kurangnya satu tempat kehadiran di daerah miskin.<br />
[Apakah “tempat baru” kita di daerah misi akan di daerah miskin?]<br />
b-	hubungan antar agama<br />
Pertama kita dipangil menjadi saksi Kristus dengan hidup, dan kedua berdialog (lih. AngTBul XVI,5-7); tidak memancing-mancing orang berganti agama atau menganggap enteng dan memburukkan kepercayaan orang lain. (47; bdk. juga konperensi KPKC di Nagahuta mengenai membangun damai melalui dialog antar agama).<br />
c-	mengenai perdamaian:<br />
“….Sebagai saudara-saudara Fransiskus, kita harus membangun jembatan dan menemukan jalan, mengatasi halangan kasta, kepercayaan, keagamaan dan batas-batas daerah, memegang benang pembawa cinta selama berjalan di tengah labirin antar-hubungan. Persaudaraan kita seharusnya menjadi titik pusat damai dan perdamaian bagi situasi yang dekat pada kita” (42).<br />
[Sambil mengindahkan petunjuk pemimpin Gereja lokal, bagaimana para saudara yang memulai “tempat baru” merancang hidup dan karya mereka atas dasar anjuran tsb.?]<br />
d-	mengenai keadilan:<br />
“….kita orang dina dan musafir berusaha menjalankan pengutusan kita sebagai nabi dengan menyatakan diri setia-kawan dengan orang miskin dan orang yang terpinggir. Kita menempatkan diri pada sisi mereka untuk mengubah dunia seturut semangat injili persaudaraan ….. harus lebih aktif melibatkan diri dalam pengembangan sosial dan rohani orang miskin dan orang yang terpinggir…..karena kemelaratan merendahkan kemanusiaan mereka sampai membahayakan juga perasaan susila mereka” (48).<br />
[Di dalam proses persiapan, baik berkaitan dengan pembicaraan kepada pemimpin Gereja lokal yang baru, maupun berkaitan dengan pemilihan dan pembekalan personalia, bagaimana Propinsi/ kerjasama antar Propinsi menyikapi pokok tsb.?]<br />
e-	mengenai keutuhan ciptaan:<br />
“Kita Kapusin juga ikut bertanggungjwab dalam pelbagai bentuk penghancuran planet kita (misalnya polusi dan penyedotan sumber alam), karena aktif ikut-serta dalam sistem perusak itu. Saudara-saudara diundang mengevaluasi secara pribadi dan bersama sikap dan tindakan kita terhadap lingkungan. Saudara-saudara diajak ikut-serta dalam aksi kelompok-kelompok yang berusaha melindungi ciptaan” (52).<br />
[Sesuai dengan jenis kerasulan di tempat baru, bagaimana pula direncanakan bentuk, peralatan rumah? Apakah ada pikiran bekerja sama dengan kelompok lain juga?]</p>
<p>3.	Model-model evangelisasi yang tidak terikat kepada kuasa dan keterjaminan.<br />
PCO VI menganjurkan semangat penyerahan diri kepada Allah dengan kepercayaan yang total. Cara kita hadir dan hidup tanpa kuasa dan daya bukanlah suatu metode atau syarat untuk evangelisasi, melainkan sudah merupakan pewartaan Injil di dalam dirinya sendiri. Kita harus mencari model-model evangelisasi yang kurang terikat kepada kuasa dan keterjaminan karena memiliki sumber pemasukan yang mahal-mahal (11).<br />
[Kedinaan, sikap dasar untuk KPKC, ini masuk pertimbangan kita di dalam memilih tempat serta bentuk kehadiran dan kerasulan kita di daerah misi?]</p>
<p>4.	Kemartiran<br />
CPO V mengatakan bahwa bila perlu kita mengurbankan nyawa demi memperjuangkan keadilan, hidup dalam kelimpahannya, mengikuti teladan Yesus Kristus (82). Mgr. Dien (Vietnam) pada Konsili Vatikan II menyatakan: “Kita mempunyai banyak martir, tetapi apakah kita mempunyai martir-martir Keadilan?” Yohanes Paulus II berkata: “Hidup bakti terang-benderang menunjukkan, bahwa semakin orang hidup dalam Kristus, semakin baik pula ia dapat melayani Dia dalam sesama, bahkan sampai mencapai stasi-stasi misi yang terjauh pun dan menghadapi bahaya-bahaya yang terbesar” (VC, 76; bdk EN, 69).<br />
[Bagaimana kita semua menyikapi ungkapan populer Uskup dari Vietnam ini, yang sangat sering dikutip orang….apalagi para saudara yang akan pergi ke Vietnam?]</p>
<p>10. PENUTUP</p>
<p>Sebagai penutup marilah menyimak kutipan DPO V berikut ini: “Banyak sekali hal yang perlu kita perbuat sehubungan dengan pertobatan yang telah kita bicarakan. Pertobatan tsb. adalah suatu pendidikan yang baru, mengena baik pada hati maupun pikiran kita. Fransiskus baru mengerti dengan terang panggilannya setelah bertahun-tahun tinggal di tengah-tengah orang pinggiran. Kita pun akan bisa mengerti maksud terdalam panggilan kita di tempat-tempat umum dan melalui kontak dengan orang pinggiran, mengalami sendiri ketidak adilan dan kekerasan yang mereka derita setiap hari. Yesus juga berkembang di dalam kebijaksanaan melalui kontak-Nya dengan kaum tersisih dan yang dihinakan pada masa-Nya” (94).</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jpic.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jpic.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jpic.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jpic.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jpic.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jpic.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jpic.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jpic.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jpic.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jpic.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jpic.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jpic.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jpic.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jpic.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jpic.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jpic.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jpic.wordpress.com&amp;blog=3684895&amp;post=21&amp;subd=jpic&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jpic.wordpress.com/2008/05/10/kpkc-misi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee06e0652a6d8b2dbaf9605c23153b33?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jpic</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jpic.files.wordpress.com/2008/05/sanfrancesco2.jpg?w=200" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>KEADILAN MENURUT FRANSISKUS DARI ASSISI</title>
		<link>http://jpic.wordpress.com/2008/05/10/keadilan-menurut-fransiskus-dari-assisi/</link>
		<comments>http://jpic.wordpress.com/2008/05/10/keadilan-menurut-fransiskus-dari-assisi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 May 2008 11:55:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jpic</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTIKEL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jpic.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[KEADILAN MENURUT FRANSISKUS Sebenarnya Fransiskus tidak punya suatu kesatuan ajaran mengenai keadilan. Tapi ini tidak berarti bahwa ia tidak punya ide tentang keadilan. Keadilan sosial bagi Fransiskus adalah buah cinta kepada saudara terutama buah iman kepada Allah, Pencipta segala sesuatu yang baik dan Bapa semua orang. Inilah konsep dasarnya mengenai keadilan yang berasal dan tersembur [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jpic.wordpress.com&amp;blog=3684895&amp;post=17&amp;subd=jpic&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jpic.files.wordpress.com/2008/05/1778cef02.jpg"><img src="http://jpic.files.wordpress.com/2008/05/1778cef02.jpg?w=500" alt=""   class="alignleft size-full wp-image-20" /></a><br />
<strong>KEADILAN MENURUT FRANSISKUS</strong></p>
<p>	Sebenarnya Fransiskus tidak punya suatu kesatuan ajaran mengenai keadilan. Tapi ini tidak berarti bahwa ia tidak punya ide tentang keadilan.<br />
	Keadilan sosial bagi Fransiskus adalah buah cinta kepada saudara terutama buah iman kepada Allah, Pencipta segala sesuatu yang baik dan Bapa semua orang. Inilah konsep dasarnya mengenai keadilan yang berasal dan tersembur dari hidup Injil yang dipeluknya.<br />
	Dalam hal ini, tiga pokok yang mendapat perhatian Fransiskus, yaitu bahwa Allah adalah pemilik segala sesuatu, bahwa kita adalah peminjam dari orang lain, dan bahwa Injil adalah sumber ide tentang keadilan.<span id="more-17"></span></p>
<p>1. Allah Sebagai Pemilik Satu-satunya akan Segala Sesuatu</p>
<p>	Bagi Fransiskus, semua orang adalah saudara dan saudari, karena Kristus telah mewahyukan bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu di alam semesta ini dan Bapa semua orang. Dari sinilah ide Fransiskus tentang keadilan berasal, yaitu bahwa Allah adalah Bapa kita bersama dan bahwa persaudaraan dengan semua orang adalah universal.<br />
	Karena Allahlah pemilik satu-satunya akan segala sesuatu, maka Fransiskus melihat Dia sebagai donatur besar (2Cel 77), dan semua orang sebagai saudara tidak lain daripada hanya penerima segala sesuatu dari Bapa bersama itu (AngTBul IX, 10-12).<br />
	Dengan mengakui Allah sebagai pemilik satu-satunya segala sesuatu, maka Fransiskus bertindak secara konsekwen terhadap dirinya dan terhadap saudaranya untuk tidak memiliki apapun di dunia ini dan di bawah kolong langit (AngBul VI; LP 102; SP 44). Contoh nyata dari sikap ini nampak dalam diri Fransiskus ketika tidak mau tinggal di balai-balai di Rivotorto kalau masih ada orang lain atau penduduk setempat yang mau tinggal di sana (1Cel 44). Tetapi lebih jauh dan lebih dalam dari itu, Fransiskus merasa wajib memberi sesuatu yang ada padanya kepada orang lain yang lebih miskin dan yang lebih membutuhkan (2Cel 87). Jadi ia melihat bahwa orang yang lebih miskin dan lebih membutuhkan lebih berhak akan sesuatu yang ada padanya. Fransiskus jeli melihat prioritas-prioritas seperti ini.<br />
	Jadi hingga di sini, Fransiskus melihat “keadilan” dalam konteks milik. Baginya dan bagi Ordonya, adil berarti tidak memiliki apapun di bawah kolong langit. Dia memandang dirinya hanya sebagai pemakai dan peminjam. Dan dia sangat sadar bahwa pinjaman harus dikembalikan. Dia juga merasa wajib menembalikan segala sesuatu kepada Allah (2Cel 77). Dalam konteks ini Fransiskus melihat kemiskinan sebagai pengakuan akan Allah sebagai Pencipta dan Pemilik segala sesuatu.</p>
<p>2. Peminjam dari Orang Lain</p>
<p>	Karena kesadarannya bahwa dirinya hanyalah peminjam dan tidak layak memiliki apapun di bawah kolong langit,maka Fransiskus melihat bahwa tidak ada jalan lain untuk membentuk dan membangun Ordonya selain menjadi Ordo Pengemis dan Peminta-minta. Menurut si Miskin ini, mengemis dan meminta-minta adalah warisan dan hak (AngTBul IX,10). Jadi dia sadar bahwa haknya di dunia ini hanyalah untuk tidak berhak akan segala sesuatu. Dia menempatkan diri pada posisi pengemis dan peminjam.<br />
	Tetapi sekaligus ini tidak harus diartikan bahwa tidak perlu lagi bekerja dan cukup bermalas-malas dengan mengharapkan sedekah. Ini tidak diterima Fransiskus, bahkan ditentangnya. Menurut dia, dalam status pengemis, bekerja adalah suatu keharusan (Was 24; AngBul V) agar dapat makan. Tetapi sekaligus juga disadarinya bahwa dengan bekerja saudara tidak dapat menuntut upah. Jadi di sini tidak ada ide parasit seperti sering dituduhkan orang bagi religius.<br />
	Karena Fransiskus melihat dan menyadari bahwa mengemis dan bekerja adalah bentuk hidupnya, maka Ordonya pun tidaklah hanya Ordo Pengemis, tapi juga Ordo Pekerja. Dia mendesak supaya saudaranya bekerja agar dapat makan (Was 25), dan ia sangat keras terhadap saudara yang malas yang hanya tahu makan (2Cel 75: tentang saudara lalat). Dia tidak suka kalau ada saudara yang menjadi beban orang lain (2Cel 161). Dia melihat bahwa setiap orang yang bekerja pantas makan.</p>
<p>Ide-ide dan gagasan-gagasan ini didasarkan Fransiskus pada statusnya yang hina dina (minor), sebagai saudara dan hamba sebagaimana dicontohkan oleh Kristus hamba yang miskin. Bagi Fransiskus, mengemis adalah sarana untuk mengikuti Kristus yang miskin dan pengembara.</p>
<p>3. Fransiskus Seorang “Sosialis Injili”</p>
<p>	Atas dasar bahwa Allah adalah Bapa kita bersama dan bahwa semua orang adalah saudara dan saudari, yang menuntut iman akan Allah dan cinta kepada sesame, yang telah terangkum dalam diri Yesus Kristus, maka Fransiskus menolak segala bentuk egoisme, yaitu penumpukan segala sesuatu bagi diri sendiri. Karena itulah si Miskin ini mau mengambil bulat-bulat Sabda Bahagia (Pth) untuk hidupnya dan untuk saudaranya. Karena itulah juga ia menolak segala bentuk tirani-kapitalis dan segala macam egois, sebab baginya hanya Allahlah yang Mahakuasa dan semua orang adalah saudara.<br />
Inilah keadilan injili menurut penghayatan Fransiskus. Ide-ide ini dituangkan terutama dalam AngTBul XXII,56-62; XXIII,63-73. Fransiskus mau mengimani Allah dan mencintai sesama.<br />
Sebagi kesimpulan singkat tentang keadilan menurut Fransiskus, ialah bahwa ia sadar bahwa ia tidak punya apa-apa selain dosa-dosanya (AngTBul XVII; 2SurBerim 69-72). Baginya segala sesuatu adalah milik Tuhan, karena itu segala sesuatu yang diterimanya dari Tuhan harus dikembalikan kepadaNya.<br />
Bagi Fransiskus, kehina-dinaan. Kemiskinan dan karya adalah sarana, syarat dan jalan menuju persaudaraan dan keadilan. Ide dan konsepnya tentang keadilan terpancar dari proyek injili yang dipeluknya.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jpic.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jpic.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jpic.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jpic.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jpic.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jpic.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jpic.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jpic.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jpic.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jpic.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jpic.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jpic.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jpic.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jpic.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jpic.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jpic.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jpic.wordpress.com&amp;blog=3684895&amp;post=17&amp;subd=jpic&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jpic.wordpress.com/2008/05/10/keadilan-menurut-fransiskus-dari-assisi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee06e0652a6d8b2dbaf9605c23153b33?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jpic</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jpic.files.wordpress.com/2008/05/1778cef02.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
