Posted by: jpic | May 16, 2008

Fransiskus & Ekologi

Fransiskus melihat ciptaan sebagai tangga untuk naik kepada Allah Pencipta (KidMat 5.16; LM IX,1; SP 113). Dalam ciptaan ia menemukan Pencipta sendiri.
Kenyataan dunia ini dilihat sebagai simfoni cinta yang mengarah kepada Yesus Kristus, saudara sulung dari setiap makhluk (1Cel 15). Karena itulah Fransiskus menyebut setiap makhluk sebagai saudara atau saudari (1Cel 91).
Setiap ciptaan menandakan dan menyuarakan Penciptanya (KidMat). Setiap makhluk menunjukkan jejak-jejak kebijaksanaan Pencipta, dan menjadi jalan menuju Dia (1Cel 82; 3Cel 1.21; LM V,10; XI,6; XII,8). Fransiskus membawa ciptaan dalam nyanyian cinta untuk memuji Penciptanya.

1. Ciptaan sebagai Rivelasi Allah Pencipta
Menurut Fransiskus, segala sesuatu diserap oleh cinta Allah (SP 113). Karena itulah ia membangun hubungan baru dengan segala ciptaan. Ia tidak mau memilikinya (kemiskinan) dan menguasainya, tetapi mengundangnya untuk memuji Allah (Proc XIV,9; 1Cel 80; SP 118-119). Bahkan ia melayaninya karena cintanya kepada Tuhan yang menciptakan segala makhluk (Lv 14-18; AngTBul XVI,7).
Fransiskus tidak hanya menyebut makhluk sebagai saudara, tapi ia bahkan memperlakukannya seolah-olah ciptan itu punya pikiran (ratio) (1Cel 81; SP 115). Ia bicara dengan makhluk-makhluk seolah-olah bicara dengan manusia (Cron XVI,4). Karena itulah ia berhasil melihat keindahan dan kelayakan setiap ciptaan dan mengembalikannya kepada Allah Pencipta (KidMat).
Dalam prospektif religius inilah alam atau kodrat menjadi transparan kepada yang ilahi serta memberi peluang bagi manusia untuk melihat Allah di dalamnya. Kenyataan alam tidak habis hanya dalam dimensi duniawinya, tapi malah keberadaannya menjadi tanda, gambaran, kehadiran dan rivelasi sang Seniman yang sangat bijaksana yang telah menciptakannya bagi manusia dan yang telah mengaturnya agar nampak sebagai “gambaran” Allah dan “kemiripan”-Nya (Pth V,1), yang dicipta dalam Kristus, “gambaran” Allah yang tak kelihatan, anak sulung dari setiap makhluk.
Justru karena manusia itu adalah “gambaran” Allah, maka ia menerima tugas untuk memberi nama kepada ciptaan dan menjadi pelindungnya. Fransiskus menghayati ini, maka ia pun memberi nama dan memanggil setiap makhluk sebagai saudara.
Dengan demikian, Fransiskus telah membebaskan hatinya dari egoisme. Ia tidak mau memiliki apapun di bawah kolong langit (AngBul Vi,7; AngTBul VII,1; AP 29). Karena itu, ciptaan, bagi Fransiskus, bukanlah obyek kenikmatan dan kuasa, tetapi sebagai obyek kekaguman akan karya Allah dan ia merasa wajib sebagai pemelihara dan penjaganya.
Bagi Fransiskus, mengenal ciptaan sebagai rivelasi Allah ialah mengenal kebijaksanaan tertinggi dari Pencipta (Pth V,6). Karena dan dalam cinta, Fransiskus melihat ciptaan sebagai “gambaran” Pencipta (2Cel 172). Mengenai ciptaan, menurut Fransiskus, adalah mengikuti Kristus dalam dan bersama ciptaan.
Semua ciptaan adalah milik Allah, dan karena itu perlu dikembalikan kepadaNya (AngTBul XVII, 17-19; AngTBul XXIII,31-34; SurBerim 61-62; KidMat 15).
Fransiskus tidak hanya melihat ciptaan sebagai tangga untuk naik kepada Allah, tetapi juga melihat Pencipta sendiri hadir dalam ciptaanNya. Karena itulah Fransiskus melihat ciptaan itu indah dan cantik, sebagai lukisan bagus dari Pelukis yang pandai. Fransiskus melihat ciptaan sebagai tempat dan tanda kemuliaan Allah. Ia menyadari bahwa Allah menciptakan segala ciptaan dalam diri Putera-Nya. Karena itu keindahan warna can cahaya dilihat Fransiskus sebagi mencerminkan wajah Yesus Kristus. Fransiskus tidak hanya mencintai manusia, tetapi juga semua ciptaan (1Cel 77; LM Mir III,8).

a. Dalam Alam/Kodrat Nampak Jejak Pencipta, dan Di dalamnya Ia Hadir.

Melalui jejak-jejak Allah dalam alam, Fransiskus mengikuti Dia yang Terkasih (KidMat V,17). Apa yang dia lihat dalam ciptaan diarahkan kepada Penciptanya (2Cel 165).
Dalam setiap makhluk tampak kebaikan asali dari Pencipta (LM IX,1). Melalui semua hal Fransiskus sampai kepada Dia yang menciptakan segalanya.
Kristus bercahaya dalam kehidupan dan menjadi “Kebijaksanaan Tertinggi” bagi setiap orang Kristen (Pth V,6).

b. Manusia “Gambaran” dan “Kemiripan” Allah, Mahkota dan Kemuliaan Makhluk

Melalui PuteraNya dan dalam Roh Kudus, Allah telah menciptakan segala sesuatu yang rohani dan jasmani (AngTBul XXIII,1-3). Manusia sendiri dicipta seturut “gambaran” Putra-Nya, dan karena itulah manusia itu terarah pada Tubuh Mulia Kristus. Manusia hidup dalam Kristus dan mencapai kesempurnaannya yang ideal serta kepenuhannya yang maksimum dalam Dia.
Fransiskus sendiri mendekati dan menyesuaikan diri dengan Yessus Kristus sejak Ia Kanak-Kanak hingga pada yang tersalon di Kalvari.
Manusia merangkum dalam dirinya semua ciptaan dan berjalan beriring bersamanya dalam perjalanan mengikuti Kristus menuju Bapa. Manusia dan seluruh ciptaan membawa dalam dirinya gambaran Pencipta. Manusia dan seluruh ciptaan telah ditebus oleh Penebus (LM IX,4).
Sambil berdialog dengan Allah, manusia dipanggil untuk hidup seturut ritme ciptaan dan selaras dengannya, yang condong mengubah rupanya (transfigurasi) pada Tubuh Mulia Tuhan. Langit baru dan bumi baru telah hadir dalam diri dan hidup Fransiskus yang melihat jejak-jejak kesetiaan Allah dalam ciptaan (LM Prol 1;IV,9).

2. Fransiskus sebagai Biduan dan Penjaga Ciptaan

Fransiskus membuka hati pada nyanyian ciptaan dan menyanyi bersama mereka. Dengan dan dalam ciptaan, Fransiskus menjadi penyanyi bagi yang Mahatinggi (AngTBul XXIII,24-25). Karena dan dengan itu ia mau mengembalikan segala sesuatu kepada Tuhan Pencipta, ia mau bebas dari segala sesuatu, dan ia tidak mau memiliki apapundi bawah kolong langit (kemiskinan).
Allah mencintai ciptaanNya dan mengambilnya sebagai mempelai Putra-Nya yang satu-satunya (2Cel 16; KKS 50; AP 35).

a. Fransiskus sebagai Biduan Ciptaan

Bagi Fransiskus, miskin berarti mengakui bahwa segala sesuatu adalah pemberiaan Allah. Ia menyadari bahwa melalui semua ciptaan, rahmat Allah sampai kepada manusia. Gita Sang Surya adalah pujian kepada Allah dengan perantaraan dan bersama dengan alam dan segala makhluk.
Fransiskus mau mengembalikan segala sesuatu kepada Allah karena Dialah asal segala sesuatu itu. (AngTBul XVII,17-20). Dalam pujian alam, alam itu sampai kepada Pemberi-Nya (AngTBul XXII,26).
Dengan pujian alam, maka semua ciptaan bukan lagi budak kuasa dan korban kenikmatan, tapi diakui kelayakannya sebagai ciptaan Tuhan (2SurBerim 10.61).
Gita Sang Surya adalah jalan dan cara Fransiskus untuk menemui dan menerima segala ciptaan untuk diaransir dan diharmonisir sebagai nyanyian pujian bagi yang Mahatinggi, dan sekaligus sebagai pengakuannya akan kebersatuannya dengan setiap ciptaan dan dengan Allah Pencipta. Nyayian itu juga sekaligus nyanyian keselamatan, sebab di dalamnya terkandung keyakinan kuat akan keselamatan (saudara maut) yang digubah oleh Fransiskus menjelang kematiannya.
Fransiskus mencintai cahaya karena dan sebagai refleksi Cahaya. Ia mencintai hidup sebagai semburan Hidup Ilahi. Ia mencintai keindahan yang berasal dari Keindahan yang Tertinggi.
Karena segala ciptaan adalah karya Allah Pencipta, maka Fransiskus merasa dirinya sebagai hina dina (minor) terhadap ciptaan itu.
Semua ciptaan condong untuk menyesuaikan dirinya dalam harmoni kepada Keindahan Tertinggi sebagai karya seni abadi, yaitu Yesus Kristus sendiri secara pribadi dan dalam Tubuh manusiawiNya. Manusia juga- dan terutama- ambil bagian dalam mediasi Kristus ini: yaitu bahwa ia adalah Exemplar dan Tuhan segala ciptaan.
Matahari, bulan, bintang-bintang menyanyikan pujian bagi Allah dan nyanyian mereka terngiang dalam hati Fransiskus dan ia pun ikut menyanyi bersama mereka untuk memuji Pencipta. Bumi kaya akan bunga dan buah. Api mengeluarkan panas dan merajai malam. Semua ini terangkum dalam Gita Sang Surya sebagai nyanyian hidup, nyanyian damai, dan sebagai nyanyian keselamatan yang melewati batas kematian. Dalam nyanyian ini, Fransiskus berperan sebagai badut (penghibur) Allah (LP 43).
Dalam nyanyian ini, Fransiskus menunjukkan fungsi setiap makhluk/ciptaan: api, air, angin, dst. Fransiskus melihat bahwa ciptaan itu punya suara untuk bernyanyi dan keindahan untuk melukiskan wajah Allah. Fransiskus menggugah dan memimpin suara makhluk-makhluk itu untuk memuji Allah. Karena dan dengan ciptaan, ia memuji Pencipta. Karena itu, setiap makhluk itu tidak hanya layak, tetapi juga transparan kepada yang ilahi.
Bila ada percekcokan diantara makhluk itu, Fransiskus juga mendamaikannya. Bila ada percekcokan, tentu tak akan lahir suara-suara yang selaras dan harmonis dari makhluk itu, melainkan koor yang jelek dan accord-accord yang sumbang. Untuk inilah Fransiskus bertindak untuk menyelaraskan suara-suara itu.

b. Fransiskus Pelindung Ekologi

Fransiskus merasa berfamili dengan semua ciptaan.ia berdialog dengan mereka, mengundang mereka (LM VIII,9) dan bersama mereka (1Cel 58) untuk memuji Tuhan.
Ia memadukan suara-suara makhluk (LP 43; 2Cel 127; SP 100) dan menyanyi bersama burung-burung untuk memuji Allah. Ia juga mengajak makhluk untuk menyanyi bagi Allah (LM VIII,9)
Tapi bila suaraa-suara itu menggannggu doa pujiannya kepada Allah, ia juga mau memerintahkan burung-burung itu agar berhenti dari keributan mereka (LM VIII,9; 1Cel 59).
Makhluk juga sering mencari perlindungan pada Fransiskus (1Cel 60; LM VIII,8; 1Cel 61). Ia sendiri pernah bertindak untuk menyelamatkan domba (LM VIII,6; 1Cel 77-79; Fior 22).
Fransiskus juga bertindak sebagai juru damai bila terjadi permusuhan antara makhluk dengan manusia (seperti peristiwa serigala di Gubbio: Fior 20).
Fransiskus adalah sahabat makhluk. Ia merasa bersatu dan senasib dengan semua makhluk sebagai sesama ciptaan Allah. Ia merasa ditebus dan diselamatkan oleh Penebus bersama seluruh ciptaan.
Karena semuanya ini, Fransiskus telah diangkat oleh Paus Yohanes Paulus II sebagai pelindung ekologi, tanggal 29 September 1996.


Leave a response

Your response:

Categories