1. Damai Sebagai Anugerah dan Tugas
Dalam Wasiatnya Fransiskus mengakui bahwa Tuhan sendirilah yang mewahyukan kepadanya agar ia dan saudaranya mengucapkan salam: “Semoga Tuhan memberi engkau damai” (Was 23). Beberapa biografi yang membenarkan ucapan ini (LP 67; SP 26).
Salam damai adalah khas bagi Fransiskus. Tulisan-tulisannya (surat-surat) sering dimulai dengan salam damai.
Sebelum berkhotbah, Fransiskus menganjurkan agar selalu dengan sapaan lebih dulu: “Semoga Tuhan memberi kamu damai” (1Cel 23; LM III,2; KKS VIII,26). Dan injil yang diwartkan, bagi Fransiskus, adalah Injil damai.
Fransiskus mengutus saudara-saudaranya ke dunia agar mereka mewartakan damai (LM III,7). Dan pada setiap rumah yang mereka kunjungi, Fransiskus memesankan agar mereka mengucapkan “Damai di rumah ini” (AngTBul XIV,1-3; AngBul III,14).
Fransiskus juga menekankan agar damai yang diucapkan dengan mulut hendaknya selaras dengan damai di hati (KKS XIV,58; AP VIII,9).
Dari salam damai yang diinginkan Fransiskus jelaslah bahwa baginya damai adalah anugerah Allah dan sekaligus tugas manusia. “Semoga Tuhan memberimu damai”, jelas bahwa damai itu berasal dari Tuhan. Tuhan adalah asal damai. Atau bahkan dapat diidentikkanTuhan itu adalah damai. Juga damai sebagai tugas sangat jelas. Damai itu disampaikan: “Damai bagimu”. Dan isi pewartaan juga adalah damai.
Damai sebagai anugerah, tugas dan isi pewartaan adalah damai yang benar, yang adalah Yesus Kristus sendiri yang lahir sebagai Pangeran Damai (2SurBerim 11-13). Karena itu, asal damai yang benar adalah Allah sendiri. Karena Ia adalah Cinta, kerendahan hati, kesabaran, keindahan dan keamanan (PujAllah 6-8)
Ekaristi, bagi Fransiskus adalah sakramen damai, karena dalam Ekaristi, Tubuh dan Darah Kristus diberikan kepada kita, dan Ia mendamaikan surga dan bumi (SurOr 13; 1Cel 20).
Damai di sini dimengerti Fransiskus sebagai keamanan, kenyamanan, kerukunan dan ketenteraman.
2. Damai Menuntut Pembaharuan Batin
Menurut Fransiskus, damai yang benar lahir dari hati yang membuka jalan untuk dibimbing oleh Roh Tuhan. Karena itu pembaharuan batin sangat perlu menciptakan damai dalam hati, dan dengan itu setiap orang akan diperkuat untuk mencari damai.
Bagi Fransiskus ada tiga point untuk pedagogi damai:
a. Damai dan Pertobatan (AngTBul XVII)
Sebelum mewartakan Injil, perlu lebih dahulu menerima cinta Allah, sumber segala sesuatu yang baik dan damai. Perlu lebih dahulu saling mencintai dan mengenal diri sebagai pendosa, baru mewartakan injil. Ketenteraman batin adalah syarat essensial untuk mencapai damai. Perlu menjauhkan diri dari kesombongan dan kehampaan serta mengikuti dorongan Roh Tuhan. Perlu mengatasi semangat daging yang sering egois dan cinta diri, sombong dan tamak.
Bila terbuka bagi Roh Tuhan, maka Roh itu akan mengarahkan hati kepada hal yang essensial, kepada ketenteraman, dan memberi kekuatan untuk mencari kerendahan hati dan kesabaran, damai yang murni, sederhana dan benar, yang berasal dari Roh itu.
b. Damai dan Hidup Polos
Damai yang murni akan menyanggupkan orang untuk mengalami kesatuan dengan Allah. Kemurnian itu adalah kebebasan batin yang membuat orang siap dan bergerak mencari Allah.
Damai yang sederhana dan injili akan membimbing orang pada ketenteraman batin, dan membebaskan dari perbudakan yang dapat menghalangi orang dalam perjalanannya menuju Allah (2SurBerim 45-47)
Damai yang benar, bagi Fransiskus adalah damai yang tulus, polos, asli, dan seturut kebenaran Allah. Damai ini menunjukkan hasil yang batiniah dan mendarah daging, bukan hal yang lahiriah saja. Damai itu membiarkan diri dibimbing oleh Roh, Roh yang mempersatukan. Hanya Roh inilah yang dapat membimbing pada keintiman dengan Allah, Allah Tritunggal (AngTBul XVI). Damai yang benar berasal dari cinta akan Bapa, Putera dan Roh Kudus.
Cinta Allah ini mengarahkan kita kepada ketenteraman dan kerukunan yang membatin dan mengalami damai yang benar berasal dari Roh. Ketiadaan cinta Allah ini akan merupakan halangan besar untuk mencapai damai yang benar yang berasal dari Roh. Dengan cinta Allah ini, manusia akan mampu menemukan diri, orang lain dan sesama makhluk sebagai saudara.
c. Damai, Derita dan Rekonsiliasi (Pth XV)
Fransiskus dalam petuahnya (XV) mengaitkan damai dan penderitaan. Karena itu dituntut kesabaran dan kerendahan hati (Pth XV,2). Menderita demi damai didasarkan pada Kristus yang telah menderita demi damai dan perdamaian (rekonsiliasi). Mencintai Kristus berarti siap menderita sebagaimana Dia menderita demi kerukunan dan damai.
Damai dan perdamaian ini bersifat aktif, bukan passif, yang mulai dengan pembaharuan batin.damai dan perdamaian seperti ini adalah “perlucutan hati” sesuai dengan tuntutan damai injili. Damai dan perdamaian seperti inilah yang sangat diperlukan dewasa ini. Yang penting dan terutama dewasa ini sebenarnya bukanlah “perlucutan senjata” tapi “perlucutan hati”, sebab hati manusialah yang mengatur senjata.
Pendamaian dan menjadi juru damai, menurut Fransiskus, menjadikan kita putera Allah. Tidak cukup hanya ber-askese demi damai dan hanya mencari solider terhadap manusia lain yang dilanda perang misalnya, tetapi perlu juga mengakui kebapaan Allah, asal dan dasar persaudaraan manusia. Tanpa mengakui Allah sebagai Bapa bersama, sudilah melihat orang lain sebagai saudara. Bila orang lain dapat dilihat sebagai saudara, maka akan ada keterbukaan untuk damai dengan mereka (KidMat 10-11).
Tapi Fransiskus tidak hanya berhenti hanya berdamai dengan dirinya sendiri (damai batin), dengan orang lain sebagai saudara, dan dengan Allah sebagai Bapa bersama. Ia juga mau berdamai dengan seluruh makhluk, seluruh ciptaan, dan seluruh alam semesta (KidMat). Damai ini berciri eskatologis, yang sudah hadir saat itu dalam pengalaman Fransiskus, yang sudah hadir saat ini dalam pengalaman para pengikutnya, dan yang akan penuh nanti pada akhir zaman. Damai itu terarah pada paskah, pada kebangkitan semua ciptaan.
3. Damai dan Persaudaraan Universal
Bagi Fransiskus, damai dan persaudaraan berjalan seiring. Keduanya berpaut erat. Pada bagian ini Fransiskus melihat beberapa dimensi:
a. Dimensi Interpersonal (Hubungan Antar Pribadi)
Dalam Wasiatnya, Fransiskus menggarisbawahi dua pertemuan penting, yaitu pertemuan dengan orang kusta dan pertemuan dengan saudara-saudara yang diberi Tuhan kepadanya (Was 1-3)
Pertemuan dengan orang kusta mula-mula dirasa pahit, tapi kemudian berobah menjadi manis.Fransiskus sangat simpatik kepada orang kusta, dan menurut dia perlu lemah lembut dalam menemani mereka. “Keluar dari dunia” (exire de saeculo) bagi Fransiskus bukanlah “lari dari dunia” (funga mundi) seturut tradisi monastic, tapi suatu cara baru untuk masuk pada orang-orang kecil, orang pinggiran, dan terutama orang kusta.
Dengan mencium orang kusta, Fransiskus merasa dirinya dialiri oleh kekuatan Allah, dan dengan pengalaman baru ini ia memasuki suatu metode baru dalam hubungannya dengan semua orang.
Saudara yang diberi Tuhan kepadanya membuatnya kontak secara lebih mendalam dengan manusia (Was 16-17).
Dalam hubungan ini, Fransiskus menekankan tiga level dalam persaudaraan:
1) Sebagai Saudara Dina:
Menurut Fransiskus tidak ada yang “prior”, yang lebih tinggi, dan lebih utama dalam persaudaraan. Baginya, cara yang paling baik untuk bersaudara ialah menjadi hamba dan dina terhadap saudara dan saling mencuci kaki satu sama lain (Was 16-17). Hal ini akan menjamin kesamaan dan persaudaraan yang saling melayani secara timbal balik.
2) Hubungan Atasan-Bawahan Sebagai Pelayan
Tradisi Monastik yang selalu menonjolkan kuasa atasan dan ketaatan bawahan tidak cocok bagi Fransiskus. Dalam hubungan ini ia mengambil model Injili, yaitu “yang mau menjadi besar hendaknya menjadi pelayan dan hamba”. Atasan hendaknya menjadi “minor” terhadap bawahannya dan bukan “prior” (AngTBul V,12-15). Atasan adalah minister yang berarti pelayan.
3) Dengan Semangat Keibuan
Fransiskus mengambil contoh hubungan ibu dan anak sebagai model persaudaraannya. Cinta kepada saudara hendaknya seperti cinta seorang ibu kepada anaknya, di mana ada relasi essensial dan efektif (AngBul VI,8-10). Dan ini cocok dengan semangat Injili.
Dengan mencium orang kusta, dengan bersaudara dengan mereka, Fransiskus merasa manis, tenteram dan damai dalam batin. Dengan persaudaraan yang berporos pada cinta, ia mengalami kesatuan dan kerukunan yang membatin dengan saudaranya. Fransiskus mengalami damai dan mewartakannya pertama-tama dalam persaudaraan dengan orang kusta dan dengan saudara-saudara yang diberi Tuhan kepadanya.
b. Dimensi Sosial dan Gerejani
Damai yang dihidupi dan diwartakan Fransiskus tidak hanya terbatas pada orang kusta dan persaudaraan intern-nya. Dia juga terbuka pada gereja dan dunia dengan semangat dinamis, apostolis dan missioner.
Dalam AngTBul (XIV,2) dan AngBul (II,14) sangat ditekankan pentingnya damai ketika bebergian ke dunia. AngTBul menekankan sikap miskin dan tanpa kekerasan. Sedangkan dalam AngBul ditekankan bagaimana damai sebagai semangat injil harus dihidupi dan diwartakan (AngBul III, 11-12). Pertama-tama penting damai dalam diri baru kemudian mewartakannya.
Dalam menhidupi damai dan mewartakannya, tak perlu pandang bulu, semua harus diterima, baik kawan atau lawan, pencuri dan penyamun, semua harus diterima dengan baik (AngTBul VII, 15-16). Semuanya harus diterima dengan sikap persaudaraan (Fior 26).
Kemudian Fransiskus lebih jauh lagi. Ia mau menyeberangi batas-batas agama dalam mewartakan damai. Dalam mendekati orang tak beriman, ia menekankan dialog tanpa pertengkaran dan perdebatan. Saudara harus menjadi minor terhadap siapapun (AngTBul,6-8).
c. Dimensi Kosmis
Mengalami dan mewartakan damai dan persaudaraan injili tidaklah lengkap kalau hanya terbatas pada manusia saja. Ini sangat jelas disadari Fransiskus dengan mengikat tali persahabatab dengan semua makhluk dan alam semesta: persaudaraan kosmis. Ia sangat menekankan damai dan perdamaian secara universal. “Semua (saudara) hendaknya tunduk kepada setiap makhluk,” kata Fransiskus dalam AngTBul XVI,6. Taat kepada saudara dan kepad semua makhluk, menurut Fransisksu, akan membawa keseimbangan bagi diri sendiri, dengan orang lain, dan dengan makhluk (KidMat).
Bagi Fransiskus, semua makhluk adalah ungkapan kebaikan Allah kepada manusia. Karena itu perlu harmoni dan damai dengan makhluk itu sebagai saudara.
Keselarasan, persahabatan, keakraban, persaudaraan dan damai dengan seluruh makhluk merupakan pujian bagi Allah, merupakan konser harmonis antara manusia dengan Allah dan dengan makhluk itu sendiri. Sebaliknya, perang dan permusuhan dengan makhluk adalah penghinaan bagi Pencipta sendiri.
4. Fransiskus Juru Damai
Demi damai, usaha yang paling penting menurut Fransiskus, seperti sudah disinggung, bukanlah perlucutan senjata, tetapi perlucutan hati, yakni: tanpa benci, tanpa usaha balas dendam, tanpa diskriminasi, menerima pencuri atau penyamun (LP 90).
Terutama seturut biografi, ada beberapa kejadian genting di mana Fransiskus bertindak sebagai juru damai.
a. Dalam Kota-Kota yang Sedang Perang
Pertama ialah di kota Arezzo, sebelah utara kota Assisi. Di sana terjadi kerusuhan dalam masyarakat (1215-1217). Mereka saling memerangi dan merusak serta membajar (2Cel 108; LM VI; LP 81). Dalam situasi gawat ini, Fransiskus bertindak sebagai juru damai.
Kedua terjadi di Bologna (1222). Di sana Fransiskus berkhotbah di lapangan umum. Khotbahnya diarahkan dan dipusatkan untuk tugas menghindari permusuhan dan menumbuhkan damai antara masyarakat.
Ketiga di Perugia (1223). Di sana Fransiskus mencoba menasehati penduduk kota agar tidak sombong terhadap warga kota Assisi. Dia berkhotbah tentang damai (2Cel 37).
Damai harus berdasar pada cinta Allah dan kesatuan dalam iman (2Cel 37). Damai yang benar (AngTBul XXII,1) berasal dari Allah.
b. Fransiskus dan Perang Salib
Pimpinan Gereja tidak lagi melihat jalan lain senjata untuk membebaskan Yerusalem dari tangan orang Islam. Karena itu terjadilah perang salib.
Fransiskus tidak sependapat dengan pemikiran itu. Baginya damai injililah yang harus dibawa kepada orang Islam. Ia sampai ke Damiata pada bulan September 1219 dan di sana ia disebut Rahib Kristen yang terkenal. Ia bertemu langsung dengan Sultan Melek -al-Kamel. Dia mendekati sang Sultan dengan “senjata damai”.
Menurut Fransiskus, para saudara harus tunduk kepada manusia dan ciptaan. Bagi dia, lebih berharga pribadi orang Islam dari pada Yerusalem dan kuburan Yesus.
Fransiskus mau berdialog dengan orang Islam, bukan dengan senjata.
Inilah cara Fransiskus untuk berdamai dengan orang Islam. Lama Gereja belum dapat menerimanya. Baru pada Konsili Vatikan II ideal Fransiskus ini terpikirkan. Fransiskus mau mempertemukan orang Kristen dari Barat dengan orang Islam dari Timur dalam suatu dialog damai.
Dewasa ini, sangat disadari bahwa contoh yang dibuat Fransiskus untuk menghadap Sultan adalah jalan yang paling baik untuk berkontak dengan orang Islam.
c. Rekonsiliasi antara Penguasa Assisi dan Uskup
Mendengar perselisihan antara penguasa Assisi dengan Uskup, Fransiskus merasa malu. Maka ia menyuruh teman-temannya atas namanya sendiri untuk mengajak sang penguasa pergi ke keuskupan.
Kemudian, ia menyuruh dua saudara untuk menyanyikan Gita Sang Surya di hadapan kedua penguasa itu agar mereka kembali bersahabat dan berdamai.
Kedua saudara itu menyanyikan lagu itu di depan kedua penguasa tersebut. Kemudian, setelah mereka bernyanyi, maka kedua penguasa itu saling berpelukan dan berciuman sebagai tanda bahwa mereka berdamai.
d. Parabola tentang Serigala di Gubbio
Seekor serigala menggana di Gubbio karena lapar. Penghuni kota takut. Fransiskus turun tangan. Ia mendamaikan serigala dengan penduduk kota.
Ini adalah gambaran kekejaman antara orang lapar dan orang kaya. Tembok ketidakadilan menimbulkan keganasan serigala-serigala yang lapar.
Fransiskus tidak menghukum siapapun. Tetapi ia mengajak kedua belah pihak berdamai.